Ketika Senja



Hari semakin senja. Matahari mulai condong jauh ke barat, bersiap menyinari belahan bumi yang lain. Sebentar lagi saatnya berbuka, waktu yang dinantikan umat Islam di bulan Ramadhan.
Dalam kegersangan alun-alun kota yang baru direnovasi, beberapa orang duduk santai di bawah pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah alun-alun. Aku berada di antara mereka, membereskan peralatan sepakbola yang baru usai kugunakan sore ini.
Lelah, lapar, berkeringat dan rasa haus yang teramat sangat aku rasakan  sore ini. Itulah yang membuatku tak bisa berlama-lama mengobrol bersama teman yang lain ketika latihan berakhir. Aku ingin segera pulang dan membantu menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Dalam benakku sudah terngiang-ngiang berbagai makanan yang siap menyambutku di rumah.
Tak perlu waktu lama untuk segera meninggalkan tempat latihan. Setelah membereskan peralatan sepakbolaku, segera aku berpamitan kepada pelatih dan rekan satu timku.
Sepeda motor yang kukendarai berjalan lamban, karena jalanan kini mulai dipadati oleh kerumunan orang. Aku menoleh ke kanan kiri, memperhatikan pemandangan yang tersaji. Para pedagang kaki lima sudah mulai menjajakan dagangannya, orang-orang duduk berkelompok sambil mengobrol menunggu adzan berkumandang dan jalan di sekitar alun-alun pun sudah berubah menjadi lahan yang menjanjikan bagi para tukang parir.
Belum jauh dari alu-alun, aku melihat seseorang yang membuatku diam seribu bahasa. Membuat mataku tak henti-henti menatapnya dari belakang. Membuatku menerka-nerka.
Sekilas aku memandang wajahnya ketika motorku berada persis di sampingnya. Dalam kilasan wajahnya, kulihat ada derita, menyerah untuk bertahan di dunia. Seorang kakek, mungkin sudah berkepala delapan, memakai pakaian lusuh dan bertopi usang, memanggul tas bobrok serta memegang sebuah tongkat.
Berjalan dengan langkahnya yang gontai, menunduk ke bawah sambil terus memegangi tongkatnya yang berfungsi ganda, sebagai penuntun langkah dan sumber penghasilannya, karena di samping tongkat itu tertempel balon-balon yang ia jajakan. Ya, kakek itu adalah seorang pejual balon.
Lama kuamati dari kejauhan, kakek itu tidak seperti pedagang biasanya. Beliau hanya seperti orang yang sedang berjalan biasa, tak kudengar suara khas orang yang sedang menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli. Kakek itu terus saja berjalan dalam diam, balon-balonnya yang sudah semakin kecil itu setia menemaninya menuju jalanan yang tak berujung.
***
Walau Ibu menyediakan makanan yang cukup spesial, aku tidak terlalu bernafsu untuk melahapnya. Pikiranku terus tertuju pada sebuah potret lain kehidupan yang aku lihat sore tadi.
“Kapan kakek itu buka? Dengan apa? Apakah kakek itu punya uang?” Berbagai pertanyaan meluncur deras dalam pikiranku. Sesekali aku merutuki diri sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Sebetulnya ini bukanlah perjumpaanku yang pertama dengan kakek itu. Jauh sebelumnya, aku telah beberapa kali melihatnya, tapi seperti biasa, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Dulu aku mempunyai dasar kuat untuk tidak terlalu memikirkannya. Pertama, karena dalam UUD 45 telah dijelaskan bahwa, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Itu membuatku yakin bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat keadaan seperti itu. Kedua, menurutku kakek itu pasti mendapat dana BLT dari pemerintah dan dana itu pasti bisa memperbaiki kehidupannya.
Namun, makin hari kepercayaanku semakin luntur. Aku semakin tidak yakin bahwa orang seperti mereka diperhatikan pemerintah. Apalagi zaman sekarang. Zaman keadilan bisa diperjual belikan. Zaman para penegak hukum memeras dan bersikap sewenang-wenang. Zaman para terpidana bisa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Bahkan, mungkin uang BLT yang seharusnya menjadi milik kaum papa, masuk ke kantong pribadi para pejabat. Maka kejadian sore tadi membuat aku semakin bisa merasakan, bahwa inilah kehidupan sesungguhnya, the real world.
***
Aku tentu saja harus bertindak! Sudah cukup waktu bagiku untuk menyia-nyiakannya. Sekuat tenanga aku mencari jalan keluar bagi masalah yang kuhadapi ini.
Sebuah ide akhirnya terlintas dalam benakku. Ide ini kudapat ketika sedang sholat tarawih. Benar kata orang, ide sering muncul ketika pikiran kita sedang kosong atau melayang jauh, karena sedari tadi aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam beribadah.
Segera setelah sholat tarawih, kuutarakan permasalahan dan ide yang kudapat kepada seorang teman lewat telepon. Pada dasarnya ia setuju. Namun, kami memiliki cara penyelesaian yang berbeda. Melalui perdebatan yang cukup alot, akhirnya ia mau menerima ideku.
Kami pun sepakat akan berusaha mengumpulkan uang hingga mencapai minimal RP 50.00,00. Jumlah tersebut memang terlalu sedikit untuk dapat memenuhi kebutuhannya dalam jangka waktu yang lama. Namun, kami berharap agar sumbangan yang kami berikan dapat bermanfaat.
Rencananya, kami akan membeli sebuah balon dari kakek itu dan menyerahkan uang pecahan lima puluh ribuan, dan berharap agar kakek itu tak mempunyai uang kembalian sehingga seluruhnya untuk kakek. Kami memilih cara itu, agar kekek itu tidak tersinggung bila kami memberikan uang secara langsung.
Dalam perkembangannya, ternyata teman-teman kelasku sangat mendukung. Hampir seluruh siswa di kelasku bersedia menyisihkan sebagian uang jajan mereka. Bahkan, sampai ada yang bersedia untuk membawakan makanan untuk buka puasa kakek itu. Beberapa teman kelasku juga bersedia terjun langsung dalam proses serah terima, hal itu membuatku mengalah dan cuma melihatnya dari jauh.
Di tempat lain, teman yang malam lalu aku telepon juga sukses mengumpulkan banyak uang. Sebagian besar dari sumbangan teman-teman kosnya. Akhirnya, uang yang terkumpul melampaui terget hingga, Rp 100.000,00.
Malamnya, aku mendapat SMS dari teman yang membantuku. Ia mewakili teman-teman yang lain mengucapkan terima kasih, karena telah dibukakan pintu hatinya. Aku pun bersyukur, ternyata pertemuanku dengan seorang kakek penjual balon dapat mengetuk hatiku yang telah sekian lama beku oleh zaman yang semakin rusak.
***
Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Usaha kami menemui jalan buntu, seperti menabarak batu karang. Sangat menyakitkan.
Sudah tiga hari teman-temanku berkeliling alun-alun mencari kakek itu, tapi tak sekalipun mereka melihatnya. Makanan yang sedianya untuk kakek penjual balon, akhirnya kami serahkan pada orang lain. Hari pertama kepada nenek penjual jagung bakar, kedua kepada seorang pengemis, dan pada hari ketiga kami serahkan pada seorang anak yang sedang meminta-minta. Aku bahkan sampai harus ikut memastikan, mungkin teman-temanku tidak mengenal sosoknya. Namun, setelah beberapa kali mengitari, bahkan hingga jauh dari alun-alun, sosok kakek penjual balon tidak jua ketemu.
“Apakah kami terlambat?” jeritku dalam hati. Jika iya, pasti kami sangat menyesal. Mestinya kami bergerak lebih cepat.
Namun, perasaanku yang lain berujar, “Mungkin dia malaikat yang dikirim untuk menyadarkan kita, agar kita bisa lebih peduli pada sesama.”Ya, semoga perasaan inilah yang benar.
Setelah berunding akhirnya uang yang ada akan kami sumbangkan ke orang lain.
Kami berikan uang tersebut kepada seorang kakek berusia sekitar enam puluhan yang juga penjual balon, yang kami temui dalam perjalanan pulang. Kakek yang berjualan sambil menuntun sepeda reot dan karatan sebagai tempat menaruh daganngannya itu tak henti-hentinya mengucap syukur.
Dalam perjalanan pulang, kami bertekad ini bukanlah yang terkahir. Ini adalah awal dari usaha kami dalam membantu meringankan beban orang-orang yang terus berusaha walaupun banyak kesulitan yang menerpa. Mungkin inilah salah satu tujuan kita hidup.


0 komentar:

Posting Komentar

give me our positive comment please...