Rumahku Alit
Cerpen A. Bakrie
"HARAM jadaaah! Sudah berkali-kali dibilang jangan simpan sepeda dekat pintu!"
Tangan Madin mencengkram stang sepeda mini yang batang-batangnya dipenuhi karat, lalu membanting sembarangan. Ia segera jongkok, mengusap-usap tulang kering kakinya. Boleh jadi, perbuatannya untuk mengurangi rasa sakit setelah tadi terantuk pedal sepeda.
"Jangan salahkan siapa-siapa. Memangnya ada tempat luas di rumah kita?"
Teriak wanita dari dalam rumah, menyambut umpatan Madin.
Mendengar itu, Madin tak menjawab. Ia hanya diam, meski kesal bukan kepalang. Kejadian seperti itu bukan pertama. Sungguh ingin tumpahkan rasa kesal sejadi-jadinya. Namun ia selalu urungkan meski ada sesak di dadanya.
Ia sadari betul, jika menanggapi omongan wanita yang tak lain istrinya, Marinah, akan panjang urusannya. Jika mempersoalkan kondisi rumah, Marinah tidak cuma akan ngomel kapan rumahnya dirombak, tetapi akan membanding-bandingkan keadaan rumahnya dengan Rumah Rokidi, teman sekantornya. Jika sudah begitu, Madin lebih memilih tutup mulut. Ia tak menyalahkan istrinya yang tak tahu apa-apa. Sebaliknya, jika menjelaskan juga tidak ada guna.
Dalam kepenatan yang luar biasa setelah terkurung dalam angkot yang selalu merayap bagai siput di saat jalanan macet sepulang kerja, ingin rasanya menikmati istirahat. Namun belakangan suasana seperti itu sulit diperoleh. Selalu saja ada sumber yang menyebabkan ia dan istrinya berbantah-bantahan. Seperti itu tadi, ia terantuk pedal sepeda anaknya, lalu ditanggapi istrinya dengan meneriakkan soal luas rumah. Jika situasi sudah memanas, biasanya ia mencoba menghindar, masuk kamar langsung tengkurap. Ia pun merekonstruksi kembali masa lalunya untuk sekadar mengecap kenangan manis guna mengobati kepahitan yang kini menghimpitnya.
Pada awal menempati rumah tipe 18 itu, ada rasa bangga pada diri Madin. Ia merasa sebagai pria sejati. Apalagi Marinah yang baru dinikahinya, tampak bahagia. Sebagai sales di sebuah distributor tunggal makanan ringan, gajinya terasa cukup. Bonus dari penjualan produk, ia bisa sisihkan untuk uang muka rumah. Kelebihannya digunakan untuk membangun benteng di lahan lebih di belakang. Setelah diberi atap, ruangan itu difungsikan untuk dapur dan ruang makan. Halaman terlihat asri, karena Marinah rajin mengurus tanaman.
Tahun-tahun berjalan, keadaan mulai berubah. Dulu kamar yang hanya satu, tidak lagi cukup setelah lahir Gani, disusul Rani, dan si bungsu Diman. Ruang dapur yang sekaligus ruang makan, terpaksa dibagi dua, disekat lembaran tripleks. Satu untuk kamar tidur anak-anak dan satu tetap untuk dapur. Ruang keluarga, terpaksa berfungsi sebagai ruang makan, ruang tamu, juga tempat menyimpan barang-barang. Rumah yang tatkala diisi berdua, kini menjadi sesak dan pengap.
Celakanya, gaji yang dulu mampu memenuhi kebutuhan, bahkan bisa ditabung, sekarang tidak lagi. Sejak terjadi krisis ekonomi, nilai uang nyaris tidak berharga. Barang-barang seolah menempati singgasana yang sulit dijangkau oleh pendapatan karyawan seperti dirinya. Apalagi persaingan produk makanan seperti halnya yang dijajakan perusahan tempatnya mencari nafkah, demikian marak dan persaingan pun semakin ketat. Perusahaan tempat kerjanya kini megap-megap.
Kondisi perusahaan seperti itulah, yang boleh jadi memaksa temannya, Rokidi, mencari akal. Sebagai sopir pengantar barang, dimainkanlah jatah bensin. Kendaraan yang mesti diisi 10 liter dikurangi jadi 7 liter, namun bon pembelian yang disosodorkan ke bagian keuangan tetap 10 liter. Entah dari mana ia dapatkan bon bensin aslinya. Adakalanya ia juga ngutak-ngatik dari penggantian onderdil yang selalu dilaporkan rusak.
Namun belakangan, Rokidi juga getol membuat rumus-rumus yang sulit dimengerti oleh Madin. Ia biasa melihat kebiasaan temannya di saat luang istirahat makan siang. Katanya hasil rumusan dipasang di bandar kupon hitam (pontam), sejenis judi nomor yang kini tengah marak dijual.
"Lumayan, Din, minggu lalu aku kena empat nomor. Jadilah sepeda anakku bisa ganti. Cobalah, sekali-kali. Tak usah pasang gede dulu, cukup seribu rupiah saja. Uang segitu, kalau hilang kan nggak nyesel amat," ujar Rokidi, satu kali ketika tengah berdua istrirahat di halaman kantor.
"Tapi dari mana modalnya. Jangan buat beli pontam, jajan anakku saja kadang susah dipenuhi," kata Madin, menjawab tanpa selera.
"Itu gampang. Si Silatunga, tetangga kita itu bisa bantu. Titipkan saja barang berharga seperti jam tangan, hari itu juga kita bisa dapat uang," kata Rokidi, sambil melirik pergelangan tangan kiri Madin, yang dililit jam dari metal.
"Tapi bunganya besar, kan? Mana kuat aku nyicilnya," kata Madin.
"Asal ada kemauan, untuk bayar pasti ada rezekinya," ujar Rokidi, meyakinkan kawannya.
**
ROKIDI, Silatunga, dan pontam, tiba-tiba menari-nari dalam benak Madin. Benarkah mereka bisa mengubah nasib? Madin mulai membatin. Seandainya itu bisa, mungkin lahan lebih yang secuil bagian belakang bisa dinaikkan jadi dua lantai. Anak-anak bisa pindah ke lantai atas. Lantas, lantai bawah bisa lebih luas untuk becengkrama. Duitnya dari mana? Kata Rokidi, sekian nomor pontam jika kena, maka uang puluhan ribu rupiah bisa jadi berjuta-juta. Sungguh hasil besar yang tanpa kerja keras.
Tiba-tiba Madin bangkit dari tempat tidur. Ia lucuti baju seragam kerjanya, diganti kaos oblong dan celana pendek. Tatkala keluar kamar, istrinya tak tampak, entah kemana. Di ruang tengah hanya ada Gani, sibuk dengan peernya.
"Mak-mu kemana, Gan?" tanya Madin.
"Bilangnya mau ke rumah Ibu Sopiah," kata Gani.
Madin tak peduli. Itu kebiasaan istrinya. Jika tengah kesal pasti menyambangi Bu Sopiah, tetangga di satu blok. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke pintu. Sore itu ia ingin berbincang dengan Rokidi, yang rumahnya di ujung gerbang perumahan.
"Pak, besok mesti beli kertas warna, lem, dan karton untuk keterampilan. Kata Emak, suruh minta ke bapak." Seketika suara Gani menghentikan langkah Madin.
Madin, sejenak menarik nafas. Sambil melanjutkan langkahnya, ia pun menjawab pendek, "Ya, besok!"
Madin, di rumah Rokidi, hanya sebentar. Kini, dua kawan sejawat itu sudah berada di rumah Silatunga. Tuan rumah tampak ramah. Madin dan Rokidi dipersilakan masuk. Karena Silatunga pintar bicara, Madin merasa akrab meski baru kali itu bertandang ke rumah orang yang katanya pendatang dari tanah seberang.
"Ini Bang, kawan saya butuh modal. Nggak besar, sesuai dengan jaminannya ini," kata Rokidi, mengeluarkan jam tangan dari saku celananya, yang diserahkan Madin tadi di rumahnya.
Urusan dengan Silatunga pun selesai. Kini di saku Madin, tersimpan uang 50 ribu rupiah. Sesuai perjanjian, minggu depan ia mulai mencicil dua ribu rupiah per hari selama enam minggu. Total yang harus dikembalikan sebesar sembilan puluh ribu.
"Jangan dipikir berat. Itu memang harus ada imbalannya. Oh, ya, Din, ini hari Jumat, mestinya kita beli pontam sekarang saja. Besok Sabtu pembukaan. Sekalian aku juga mau beli. Ada nomor bagus, siapa tahu kena," ujar Rokidi.
Madin hanya manut. Ia bagai kebo dicocok hidung, mengikuti kemana kawannya melangkah. Mereka jalan kaki, lalu keluar mulut perumahan dari gerbang yang lain, belok ke kiri menelusuri pinggir jalan raya.
Namun baru sepuluh langkah, Rokidi mendadak berhenti. Madin menyaksikan perubahan wajah kawannya yang memucat. Matanya tajam menatap jauh ke arah jalan yang akan dilalui. Madin sama sekali tak paham apa yang terjadi. Sebelum mulutnya terbuka untuk bertanya, Rokidi sudah lebih dulu bersuara, "Celaka Din, celaka!"
"Apanya yang celaka?" ujar Madin, tetap tak paham.
"Coba lihat, di depan kios itu banyak polisi. Wah, pasti razia," kata Rokidi, menunjuk kios bensin dan tambal ban hanya dengan mendongakkan dagunya.
Ya, Madin menyaksikan sekira 100 meter dari tempatnya berdiri, sebuah mobil polisi dan beberapa personelnya tampak sibuk di depan kios bensin dan tambal ban entah milik siapa. Satu dua orang polisi keluar dari kios itu, menggiring dua pria dan memasukkannya ke mobil lewat pintu belakang . Tak lama polisi lainnya masuk. Mobil itu dengan serine dibunyikan, balik arah lalu menghilang di tikungan.
"Din, kita pulang saja. Untung kita belum sampai," kata Rokidi, mengajak pulang kawannya.
"Lha, kan kita mau beli pontam," ujar Madin.
Rokidi pun menjelaskan, kios bensin dua taks dan tambal ban itulah tempat menjual pontam. Kios tersebut selama ini merangkap menjual kupon yang selama ini menjadi langganannya. Namun, tadi tampak polisi datang untuk merazia kupon pontam yang dijual secara gelap alias tidak resmi. "Kalau kita pas ada di sana, mungkin digiring juga ke kantor polisi," kata Rokidi.
Mendengar itu, Madin hanya melongo. Ia pun mengikuti langkah Rokidi untuk pulang. Mamun di jalan, ia pun memberanikan diri mengungkapkan niatnya mengembalikan uang yang diterimanya dari Silatunga. Rokidi hanya mengiyakan dan tampak menyesal karna tak mampu membantu mengubah nasib kawannya.
"Alah, Bang, sangat menyesal, barang tak bisa dikembalikan sekarang. Kan, aku bilang, dalam perjanjiannya uang baru bisa dikembalikan setelah seminggu. Aku pikir, pakailah dulu. Siapa tahu dibutuhkan nanti," kata Silatunga, kepada Madin dan Rokidi, ketika mereka kembali berhadapan.
Meski Madin dengan berbagai alasan ingin mengembalikan uang, Silatunga tetap tak mau menukarnya. Madin pun mengalah. Ia pun pulang dengan berbagai pikiran dan perasaan gelisah. Ia harus menjawab apa jika istrinya menanyakan jam tangan. Jika Marinah tahu kalau arloji itu ”di sekolahkan” di Silatunga, pasti marahnya tambah berlipat. Apalagi jam kesayangannya dibeli dengan sebagian uangnya dari hasil arisan istrinya.
Hari-hari selanjutnya, Madin pun kerap berkunjung ke Silatunga, membayar utangnya yang terasa mencekik. Sebab saat itu, uang dari Silatunga memang terpakai. Pada keesokan harinya sebagian uang berpindah ke tangan Gani, anaknya. Sebagian lagi untuk menyambung ongkos ke tempat kerja. Lalu, kepada istrinya, untuk pertama kalinya ia berbohong, bahwa jamnya jatuh ke bak mandi di kantor dan rusak sekarang tengah diperbaiki!***) Alit = kecil (Sunda)
Rumahku Alit
Diposting oleh
blue_roses_Prod.
on Selasa, 03 November 2009
Label:
Cerpen

0 komentar:
Posting Komentar
give me our positive comment please...