Ketika Senja



Hari semakin senja. Matahari mulai condong jauh ke barat, bersiap menyinari belahan bumi yang lain. Sebentar lagi saatnya berbuka, waktu yang dinantikan umat Islam di bulan Ramadhan.
Dalam kegersangan alun-alun kota yang baru direnovasi, beberapa orang duduk santai di bawah pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah alun-alun. Aku berada di antara mereka, membereskan peralatan sepakbola yang baru usai kugunakan sore ini.
Lelah, lapar, berkeringat dan rasa haus yang teramat sangat aku rasakan  sore ini. Itulah yang membuatku tak bisa berlama-lama mengobrol bersama teman yang lain ketika latihan berakhir. Aku ingin segera pulang dan membantu menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Dalam benakku sudah terngiang-ngiang berbagai makanan yang siap menyambutku di rumah.
Tak perlu waktu lama untuk segera meninggalkan tempat latihan. Setelah membereskan peralatan sepakbolaku, segera aku berpamitan kepada pelatih dan rekan satu timku.
Sepeda motor yang kukendarai berjalan lamban, karena jalanan kini mulai dipadati oleh kerumunan orang. Aku menoleh ke kanan kiri, memperhatikan pemandangan yang tersaji. Para pedagang kaki lima sudah mulai menjajakan dagangannya, orang-orang duduk berkelompok sambil mengobrol menunggu adzan berkumandang dan jalan di sekitar alun-alun pun sudah berubah menjadi lahan yang menjanjikan bagi para tukang parir.
Belum jauh dari alu-alun, aku melihat seseorang yang membuatku diam seribu bahasa. Membuat mataku tak henti-henti menatapnya dari belakang. Membuatku menerka-nerka.
Sekilas aku memandang wajahnya ketika motorku berada persis di sampingnya. Dalam kilasan wajahnya, kulihat ada derita, menyerah untuk bertahan di dunia. Seorang kakek, mungkin sudah berkepala delapan, memakai pakaian lusuh dan bertopi usang, memanggul tas bobrok serta memegang sebuah tongkat.
Berjalan dengan langkahnya yang gontai, menunduk ke bawah sambil terus memegangi tongkatnya yang berfungsi ganda, sebagai penuntun langkah dan sumber penghasilannya, karena di samping tongkat itu tertempel balon-balon yang ia jajakan. Ya, kakek itu adalah seorang pejual balon.
Lama kuamati dari kejauhan, kakek itu tidak seperti pedagang biasanya. Beliau hanya seperti orang yang sedang berjalan biasa, tak kudengar suara khas orang yang sedang menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli. Kakek itu terus saja berjalan dalam diam, balon-balonnya yang sudah semakin kecil itu setia menemaninya menuju jalanan yang tak berujung.
***
Walau Ibu menyediakan makanan yang cukup spesial, aku tidak terlalu bernafsu untuk melahapnya. Pikiranku terus tertuju pada sebuah potret lain kehidupan yang aku lihat sore tadi.
“Kapan kakek itu buka? Dengan apa? Apakah kakek itu punya uang?” Berbagai pertanyaan meluncur deras dalam pikiranku. Sesekali aku merutuki diri sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Sebetulnya ini bukanlah perjumpaanku yang pertama dengan kakek itu. Jauh sebelumnya, aku telah beberapa kali melihatnya, tapi seperti biasa, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Dulu aku mempunyai dasar kuat untuk tidak terlalu memikirkannya. Pertama, karena dalam UUD 45 telah dijelaskan bahwa, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Itu membuatku yakin bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat keadaan seperti itu. Kedua, menurutku kakek itu pasti mendapat dana BLT dari pemerintah dan dana itu pasti bisa memperbaiki kehidupannya.
Namun, makin hari kepercayaanku semakin luntur. Aku semakin tidak yakin bahwa orang seperti mereka diperhatikan pemerintah. Apalagi zaman sekarang. Zaman keadilan bisa diperjual belikan. Zaman para penegak hukum memeras dan bersikap sewenang-wenang. Zaman para terpidana bisa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Bahkan, mungkin uang BLT yang seharusnya menjadi milik kaum papa, masuk ke kantong pribadi para pejabat. Maka kejadian sore tadi membuat aku semakin bisa merasakan, bahwa inilah kehidupan sesungguhnya, the real world.
***
Aku tentu saja harus bertindak! Sudah cukup waktu bagiku untuk menyia-nyiakannya. Sekuat tenanga aku mencari jalan keluar bagi masalah yang kuhadapi ini.
Sebuah ide akhirnya terlintas dalam benakku. Ide ini kudapat ketika sedang sholat tarawih. Benar kata orang, ide sering muncul ketika pikiran kita sedang kosong atau melayang jauh, karena sedari tadi aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam beribadah.
Segera setelah sholat tarawih, kuutarakan permasalahan dan ide yang kudapat kepada seorang teman lewat telepon. Pada dasarnya ia setuju. Namun, kami memiliki cara penyelesaian yang berbeda. Melalui perdebatan yang cukup alot, akhirnya ia mau menerima ideku.
Kami pun sepakat akan berusaha mengumpulkan uang hingga mencapai minimal RP 50.00,00. Jumlah tersebut memang terlalu sedikit untuk dapat memenuhi kebutuhannya dalam jangka waktu yang lama. Namun, kami berharap agar sumbangan yang kami berikan dapat bermanfaat.
Rencananya, kami akan membeli sebuah balon dari kakek itu dan menyerahkan uang pecahan lima puluh ribuan, dan berharap agar kakek itu tak mempunyai uang kembalian sehingga seluruhnya untuk kakek. Kami memilih cara itu, agar kekek itu tidak tersinggung bila kami memberikan uang secara langsung.
Dalam perkembangannya, ternyata teman-teman kelasku sangat mendukung. Hampir seluruh siswa di kelasku bersedia menyisihkan sebagian uang jajan mereka. Bahkan, sampai ada yang bersedia untuk membawakan makanan untuk buka puasa kakek itu. Beberapa teman kelasku juga bersedia terjun langsung dalam proses serah terima, hal itu membuatku mengalah dan cuma melihatnya dari jauh.
Di tempat lain, teman yang malam lalu aku telepon juga sukses mengumpulkan banyak uang. Sebagian besar dari sumbangan teman-teman kosnya. Akhirnya, uang yang terkumpul melampaui terget hingga, Rp 100.000,00.
Malamnya, aku mendapat SMS dari teman yang membantuku. Ia mewakili teman-teman yang lain mengucapkan terima kasih, karena telah dibukakan pintu hatinya. Aku pun bersyukur, ternyata pertemuanku dengan seorang kakek penjual balon dapat mengetuk hatiku yang telah sekian lama beku oleh zaman yang semakin rusak.
***
Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Usaha kami menemui jalan buntu, seperti menabarak batu karang. Sangat menyakitkan.
Sudah tiga hari teman-temanku berkeliling alun-alun mencari kakek itu, tapi tak sekalipun mereka melihatnya. Makanan yang sedianya untuk kakek penjual balon, akhirnya kami serahkan pada orang lain. Hari pertama kepada nenek penjual jagung bakar, kedua kepada seorang pengemis, dan pada hari ketiga kami serahkan pada seorang anak yang sedang meminta-minta. Aku bahkan sampai harus ikut memastikan, mungkin teman-temanku tidak mengenal sosoknya. Namun, setelah beberapa kali mengitari, bahkan hingga jauh dari alun-alun, sosok kakek penjual balon tidak jua ketemu.
“Apakah kami terlambat?” jeritku dalam hati. Jika iya, pasti kami sangat menyesal. Mestinya kami bergerak lebih cepat.
Namun, perasaanku yang lain berujar, “Mungkin dia malaikat yang dikirim untuk menyadarkan kita, agar kita bisa lebih peduli pada sesama.”Ya, semoga perasaan inilah yang benar.
Setelah berunding akhirnya uang yang ada akan kami sumbangkan ke orang lain.
Kami berikan uang tersebut kepada seorang kakek berusia sekitar enam puluhan yang juga penjual balon, yang kami temui dalam perjalanan pulang. Kakek yang berjualan sambil menuntun sepeda reot dan karatan sebagai tempat menaruh daganngannya itu tak henti-hentinya mengucap syukur.
Dalam perjalanan pulang, kami bertekad ini bukanlah yang terkahir. Ini adalah awal dari usaha kami dalam membantu meringankan beban orang-orang yang terus berusaha walaupun banyak kesulitan yang menerpa. Mungkin inilah salah satu tujuan kita hidup.


Konvensi


Konvensi

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya!04/10/2005 Telah Disimak 553 kali


Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini --sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah-- martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.

Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja. Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.
***
Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari --kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari-- yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong --dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya-- untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

"Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa," katanya berapi-api. "Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai."

"Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masa lima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit." Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. "Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya saya kan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu."

"Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya."

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup."

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

"Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak."
***
Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

"Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu."

"Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?" tanyaku.

"Ya tidak sekali dua kali," sahutnya, "tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir saya kan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama saya kan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri."

"Tapi akibatnya kan bisa juga mengenai orang banyak?!"
"Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi."

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.
"Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup."

"Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?" selaku.
"Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itu kan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil."
***
Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.
***
"Itulah politik," kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. "Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku --dan kamu ikut mendorong-dorongku-- untuk ikutan maju sebagai cawabup!" ***



Sang Primadona



Sang Primadona

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya!11/27/2005 Telah Disimak 644 kali


Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***





Nasihat Kiai Luqni


Nasihat Kiai Luqni

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!


 Berbeda dengan acara pengajian yang lain, pengajian dalam rangka haul, pengunjungnya jauh lebih banyak. Haul --berbeda dengan mauludan yang merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad-- adalah peringatan hari wafat. Biasanya yang di-haul-i adalah kiai besar. Tapi sekarang setiap rang bisa dihauli, tergantung keluarganya.
Apabila keluarga seseorang yang sudah meninggal menghendaki dan mempunyai cukup biaya untuk mengadakan peringatan haul, sekarang ini bisa-bisa saja mengadakannya. Bedanya dengan haul kiai besar, haul keluarga ini segala sesuatunya hanya ditanggung dan ditangani oleh keluarga yang bersangkutan itu sendiri. Sementara haul kiai besar lazimnya diselenggarakan oleh masyarakat. Panitianya juga dibentuk oleh dan dari masyarakat. Keluarga kiai yang dihauli biasanya hanya didudukkan sebagai penasihat panitia.
Tradisi haul dengan pengajian besar-besaran semula dimaksudkan ?sebagaimana mauludan-- untuk mengenang jasa dan menuturkan sejarah kiai yang dihauli dengan tujuan agar diteladani oleh masyarakat.
Malam itu saya diundang pengajian haul kiai besar di daerah P. Saya datang tidak hanya karena saya mengenal Kiai Akrom yang dihauli sebagai tokoh yang dicintai masyarakat pada masa hidupnya, tapi juga ingin mendengarkan ceramah Kiai Luqni, seorang mubalig kondang yang berbeda dengan kebanyakan mubalig lain.
Kiai Luqni suaranya empuk, bicaranya sejuk. Tidak berkobar-kobar. Bila membaca ayat-ayat Quran selalu dilagukan dengan merdu. Ceramahnya mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun yang awam. Kadang-kadang bicaranya diselingi dengan humor-humor segar yang tidak vulgar. Lebih dari itu; Kiai Luqni dalam ceramahnya, tidak pernah mengecam, menuding, atau apalagi mencaci orang. Tidak pernah menggurui, apalagi bersikap seolah-olah penguasa agama yang paling tahu kehendak Tuhan.
Di majelis haul, ribuan hadirin mengelu-elukan kedatangan da?I kecintaan mereka, Kiai Luqni. Mereka yang dekat dari tempat Kiai Luqni berjalan menuju ke rumah keluarga Kiai Akrom yang dihauli, berhamburan menyambut dan menciumi tangannya. Sementara yang jauh pada melambaikan tangan. Dengan tersenyum, Kiai Luqni membalas sambutan itu dengan wajah berseri-seri tanpa kesan bangga.
***
??Acara berikutnya ialah acara inti,?? terdengar suara pembawa acara di pengeras suara, ??acara yang kita nanti-nantikan: mau?izhah hasanah dan tausiah dari almukarram Bapak Kiai Haji Luqni. Waktu dan tempat kami persilakan secukupnya!??
Kiai Luqni pun dengan tenang dan anggun naik ke panggung diiringi selawat hadirin dan hadirat. Kiai Luqni sendiri ikut membaca salawat sebelum kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan. Lalu menyampaikan salam. Sekalian hadirin seketika menyambut salam dengan gegap gempita; kemudian diam dan dengan tenang menyimak.
Dengan gamblang, Kiai Luqni menerangkan hikmahnya diadakan peringatan haul.
??Para hadirin, haul itu kebalikan dari peringatan maulid. Kalau peringatan maulid adalah peringatan kelahiran. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan haul merupakan peringatan kematian; biasanya memperingati wafatnya kiai yang meneruskan perjuangan Kanjeng Nabi seperti haul Kiai Akrom sekarang ini.??
??Ini adalah haul Kiai Akrom yang ke-13. Berarti sudah 13 tahun Kiai Akrom wafat. Sudah 13 tahun kita ditinggalkannya. Tapi, lihatlah, selama itu kita yang sekian banyak ini masih terus mengenang dan mendoakan beliau. Mengapa? Karena kita semua merasa telah menerima jasa dan? kebaikan beliau. Beliau telah mengajarkan dan memberi teladan kepada kita hidup yang baik. Menunjukkan kepada kita mana yang baik dan mana yang buruk. Yang mestinya menjadi pertanyaan kita saat ini: apakah apabila kita meninggal akan dihauli dan dikenang orang banyak seperti Kiai Akrom ini; ataukah akan segera dilupakan oleh orang???
??Haul juga mengingatkan kepada kita akan kematian. Bahwa kita semua, tak pandang bulu, bila sudah sampai saatnya pasti dipanggil ke hadirat-Nya. Kita tak tahu kapan ajal kita tiba, tapi kita tahu bahwa itu pasti tiba.??
??Ada dawuh yang mengatakan, Kafaa bilmauti waa?izhan. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Orang yang tidak mempan dinasihati oleh kematian, jangan harapkan mempan dinasihati oleh lainnya.??
??Orang yang selalu ingat bahwa dia akan mati, akan bersikap hati-hati. Sebaliknya mereka yang sembrono, yang sombong, yang jahat kepada sesama, biasanya adalah orang-orang yang lupa bahwa mereka akan mati???
??Tak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana akan mati. Seandainya kita tahu kapan dan di mana kita akan mati, maka kita bisa mempersiapkan diri. Tapi kita tidak tahu. Jadi, mestinya setiap saat kita harus bersiap-siap.??
Kiai Luqni kemudian menguraikan pentingnya mempersiapkan diri menyongsong kematian. ??Mempersiapkan diri menyongsong kematian yang pasti itu, bisa kita lakukan dengan membiasakan perilaku yang baik. Sehingga kapan saja kita dipanggil Tuhan, kita dalam keadaan berperilaku baik. Jangan sampai kita membiasakan perilaku buruk, sehingga dikhawatirkan mati dalam keadaan buruk pula.?? ?
Kiai Luqni pun memberikan contoh-contoh beberapa tokoh yang dikenal dan diketahui hadirin. ??Anda sekalian kenal, bukan, dengan Mbah Asnawi dari K? Kiai yang suka sembahyang itu? Beliau meninggal saat sujud. Alangkah beruntungnya dipanggil Tuhan dalam keadaan sedang bersujud kepada-Nya. Kiai Zaini dari D yang pekerjaannya mengajar para santri, wafat saat sedang mengajar para santrinya.??
??Sebaliknya, di antara kalian pasti ada yang pernah membaca berita tentang seorang tokoh yang meninggal di sebuah kamar hotel dan ?maaf--berada di atas seorang wanita nakal. Masya Allah!??
??Memang, biasanya orang meninggal sesuai kesukaan atau kebiasaan hidupnya. Di tempat saya, ada orang yang suka judi dan mati pada saat berjudi. Ada yang suka minum, mati pada saat minum. Na?udzu billah. Anda sekalian mungkin sudah mendengar berita tentang seorang dosen yang meninggal saat memberi kuliah. Atau tentang penyair yang meninggal pada saat membaca puisi...??
Kiai Luqni berhenti sebentar, memperbaiki duduknya. Menarik nafas panjang, kemudian, dengan suara melirih, mendesiskan Astaghfirullah??? Dan tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mubalig kondang ini.
Hadirin hanya melihat sosok Kiai Luqni yang duduk lunglai di tempat duduknya di atas panggung. Kepalanya tunduk hingga dagunya menyentuh dada. Suasana menjadi hening. Sampai beberapa orang panitia naik panggung setelah beberapa lama Kiai Luqni tak bersuara dan tak bergerak. Orang-orang pun kemudian melihat mubalig kesayangan mereka itu digotong turun.
Suasana pun berubah gempar. Kiai Luqni wafat. Sesuai ceramahnya, Kiai Luqni wafat pada saat sedang memberi nasihat. Kewafatannya meneguhkan nasihatnya.? ?
Cukuplah kematian sebagai nasihat. ***

Rumahku Alit


Rumahku Alit

Cerpen A. Bakrie Silakan Simak!

"HARAM jadaaah! Sudah berkali-kali dibilang jangan simpan sepeda dekat pintu!"
Tangan Madin mencengkram stang sepeda mini yang batang-batangnya dipenuhi karat, lalu membanting sembarangan. Ia segera jongkok, mengusap-usap tulang kering kakinya. Boleh jadi, perbuatannya untuk mengurangi rasa sakit setelah tadi terantuk pedal sepeda.
"Jangan salahkan siapa-siapa. Memangnya ada tempat luas di rumah kita?"
Teriak wanita dari dalam rumah, menyambut umpatan Madin.
Mendengar itu, Madin tak menjawab. Ia hanya diam, meski kesal bukan kepalang. Kejadian seperti itu bukan pertama. Sungguh ingin tumpahkan rasa kesal sejadi-jadinya. Namun ia selalu urungkan meski ada sesak di dadanya.
Ia sadari betul, jika menanggapi omongan wanita yang tak lain istrinya, Marinah, akan panjang urusannya. Jika mempersoalkan kondisi rumah, Marinah tidak cuma akan ngomel kapan rumahnya dirombak, tetapi akan membanding-bandingkan keadaan rumahnya dengan Rumah Rokidi, teman sekantornya. Jika sudah begitu, Madin lebih memilih tutup mulut. Ia tak menyalahkan istrinya yang tak tahu apa-apa. Sebaliknya, jika menjelaskan juga tidak ada guna.
Dalam kepenatan yang luar biasa setelah terkurung dalam angkot yang selalu merayap bagai siput di saat jalanan macet sepulang kerja, ingin rasanya menikmati istirahat. Namun belakangan suasana seperti itu sulit diperoleh. Selalu saja ada sumber yang menyebabkan ia dan istrinya berbantah-bantahan. Seperti itu tadi, ia terantuk pedal sepeda anaknya, lalu ditanggapi istrinya dengan meneriakkan soal luas rumah. Jika situasi sudah memanas, biasanya ia mencoba menghindar, masuk kamar langsung tengkurap. Ia pun merekonstruksi kembali masa lalunya untuk sekadar mengecap kenangan manis guna mengobati kepahitan yang kini menghimpitnya.
Pada awal menempati rumah tipe 18 itu, ada rasa bangga pada diri Madin. Ia merasa sebagai pria sejati. Apalagi Marinah yang baru dinikahinya, tampak bahagia. Sebagai sales di sebuah distributor tunggal makanan ringan, gajinya terasa cukup. Bonus dari penjualan produk, ia bisa sisihkan untuk uang muka rumah. Kelebihannya digunakan untuk membangun benteng di lahan lebih di belakang. Setelah diberi atap, ruangan itu difungsikan untuk dapur dan ruang makan. Halaman terlihat asri, karena Marinah rajin mengurus tanaman.
Tahun-tahun berjalan, keadaan mulai berubah. Dulu kamar yang hanya satu, tidak lagi cukup setelah lahir Gani, disusul Rani, dan si bungsu Diman. Ruang dapur yang sekaligus ruang makan, terpaksa dibagi dua, disekat lembaran tripleks. Satu untuk kamar tidur anak-anak dan satu tetap untuk dapur. Ruang keluarga, terpaksa berfungsi sebagai ruang makan, ruang tamu, juga tempat menyimpan barang-barang. Rumah yang tatkala diisi berdua, kini menjadi sesak dan pengap.
Celakanya, gaji yang dulu mampu memenuhi kebutuhan, bahkan bisa ditabung, sekarang tidak lagi. Sejak terjadi krisis ekonomi, nilai uang nyaris tidak berharga. Barang-barang seolah menempati singgasana yang sulit dijangkau oleh pendapatan karyawan seperti dirinya. Apalagi persaingan produk makanan seperti halnya yang dijajakan perusahan tempatnya mencari nafkah, demikian marak dan persaingan pun semakin ketat. Perusahaan tempat kerjanya kini megap-megap.
Kondisi perusahaan seperti itulah, yang boleh jadi memaksa temannya, Rokidi, mencari akal. Sebagai sopir pengantar barang, dimainkanlah jatah bensin. Kendaraan yang mesti diisi 10 liter dikurangi jadi 7 liter, namun bon pembelian yang disosodorkan ke bagian keuangan tetap 10 liter. Entah dari mana ia dapatkan bon bensin aslinya. Adakalanya ia juga ngutak-ngatik dari penggantian onderdil yang selalu dilaporkan rusak.
Namun belakangan, Rokidi juga getol membuat rumus-rumus yang sulit dimengerti oleh Madin. Ia biasa melihat kebiasaan temannya di saat luang istirahat makan siang. Katanya hasil rumusan dipasang di bandar kupon hitam (pontam), sejenis judi nomor yang kini tengah marak dijual.
"Lumayan, Din, minggu lalu aku kena empat nomor. Jadilah sepeda anakku bisa ganti. Cobalah, sekali-kali. Tak usah pasang gede dulu, cukup seribu rupiah saja. Uang segitu, kalau hilang kan nggak nyesel amat," ujar Rokidi, satu kali ketika tengah berdua istrirahat di halaman kantor.
"Tapi dari mana modalnya. Jangan buat beli pontam, jajan anakku saja kadang susah dipenuhi," kata Madin, menjawab tanpa selera.
"Itu gampang. Si Silatunga, tetangga kita itu bisa bantu. Titipkan saja barang berharga seperti jam tangan, hari itu juga kita bisa dapat uang," kata Rokidi, sambil melirik pergelangan tangan kiri Madin, yang dililit jam dari metal.
"Tapi bunganya besar, kan? Mana kuat aku nyicilnya," kata Madin.
"Asal ada kemauan, untuk bayar pasti ada rezekinya," ujar Rokidi, meyakinkan kawannya.
**
ROKIDI, Silatunga, dan pontam, tiba-tiba menari-nari dalam benak Madin. Benarkah mereka bisa mengubah nasib? Madin mulai membatin. Seandainya itu bisa, mungkin lahan lebih yang secuil bagian belakang bisa dinaikkan jadi dua lantai. Anak-anak bisa pindah ke lantai atas. Lantas, lantai bawah bisa lebih luas untuk becengkrama. Duitnya dari mana? Kata Rokidi, sekian nomor pontam jika kena, maka uang puluhan ribu rupiah bisa jadi berjuta-juta. Sungguh hasil besar yang tanpa kerja keras.
Tiba-tiba Madin bangkit dari tempat tidur. Ia lucuti baju seragam kerjanya, diganti kaos oblong dan celana pendek. Tatkala keluar kamar, istrinya tak tampak, entah kemana. Di ruang tengah hanya ada Gani, sibuk dengan peernya.
"Mak-mu kemana, Gan?" tanya Madin.
"Bilangnya mau ke rumah Ibu Sopiah," kata Gani.
Madin tak peduli. Itu kebiasaan istrinya. Jika tengah kesal pasti menyambangi Bu Sopiah, tetangga di satu blok. Ia pun segera melangkahkan kakinya ke pintu. Sore itu ia ingin berbincang dengan Rokidi, yang rumahnya di ujung gerbang perumahan.
"Pak, besok mesti beli kertas warna, lem, dan karton untuk keterampilan. Kata Emak, suruh minta ke bapak." Seketika suara Gani menghentikan langkah Madin.
Madin, sejenak menarik nafas. Sambil melanjutkan langkahnya, ia pun menjawab pendek, "Ya, besok!"
Madin, di rumah Rokidi, hanya sebentar. Kini, dua kawan sejawat itu sudah berada di rumah Silatunga. Tuan rumah tampak ramah. Madin dan Rokidi dipersilakan masuk. Karena Silatunga pintar bicara, Madin merasa akrab meski baru kali itu bertandang ke rumah orang yang katanya pendatang dari tanah seberang.
"Ini Bang, kawan saya butuh modal. Nggak besar, sesuai dengan jaminannya ini," kata Rokidi, mengeluarkan jam tangan dari saku celananya, yang diserahkan Madin tadi di rumahnya.
Urusan dengan Silatunga pun selesai. Kini di saku Madin, tersimpan uang 50 ribu rupiah. Sesuai perjanjian, minggu depan ia mulai mencicil dua ribu rupiah per hari selama enam minggu. Total yang harus dikembalikan sebesar sembilan puluh ribu.
"Jangan dipikir berat. Itu memang harus ada imbalannya. Oh, ya, Din, ini hari Jumat, mestinya kita beli pontam sekarang saja. Besok Sabtu pembukaan. Sekalian aku juga mau beli. Ada nomor bagus, siapa tahu kena," ujar Rokidi.
Madin hanya manut. Ia bagai kebo dicocok hidung, mengikuti kemana kawannya melangkah. Mereka jalan kaki, lalu keluar mulut perumahan dari gerbang yang lain, belok ke kiri menelusuri pinggir jalan raya.
Namun baru sepuluh langkah, Rokidi mendadak berhenti. Madin menyaksikan perubahan wajah kawannya yang memucat. Matanya tajam menatap jauh ke arah jalan yang akan dilalui. Madin sama sekali tak paham apa yang terjadi. Sebelum mulutnya terbuka untuk bertanya, Rokidi sudah lebih dulu bersuara, "Celaka Din, celaka!"
"Apanya yang celaka?" ujar Madin, tetap tak paham.
"Coba lihat, di depan kios itu banyak polisi. Wah, pasti razia," kata Rokidi, menunjuk kios bensin dan tambal ban hanya dengan mendongakkan dagunya.
Ya, Madin menyaksikan sekira 100 meter dari tempatnya berdiri, sebuah mobil polisi dan beberapa personelnya tampak sibuk di depan kios bensin dan tambal ban entah milik siapa. Satu dua orang polisi keluar dari kios itu, menggiring dua pria dan memasukkannya ke mobil lewat pintu belakang . Tak lama polisi lainnya masuk. Mobil itu dengan serine dibunyikan, balik arah lalu menghilang di tikungan.
"Din, kita pulang saja. Untung kita belum sampai," kata Rokidi, mengajak pulang kawannya.
"Lha, kan kita mau beli pontam," ujar Madin.
Rokidi pun menjelaskan, kios bensin dua taks dan tambal ban itulah tempat menjual pontam. Kios tersebut selama ini merangkap menjual kupon yang selama ini menjadi langganannya. Namun, tadi tampak polisi datang untuk merazia kupon pontam yang dijual secara gelap alias tidak resmi. "Kalau kita pas ada di sana, mungkin digiring juga ke kantor polisi," kata Rokidi.
Mendengar itu, Madin hanya melongo. Ia pun mengikuti langkah Rokidi untuk pulang. Mamun di jalan, ia pun memberanikan diri mengungkapkan niatnya mengembalikan uang yang diterimanya dari Silatunga. Rokidi hanya mengiyakan dan tampak menyesal karna tak mampu membantu mengubah nasib kawannya.
"Alah, Bang, sangat menyesal, barang tak bisa dikembalikan sekarang. Kan, aku bilang, dalam perjanjiannya uang baru bisa dikembalikan setelah seminggu. Aku pikir, pakailah dulu. Siapa tahu dibutuhkan nanti," kata Silatunga, kepada Madin dan Rokidi, ketika mereka kembali berhadapan.
Meski Madin dengan berbagai alasan ingin mengembalikan uang, Silatunga tetap tak mau menukarnya. Madin pun mengalah. Ia pun pulang dengan berbagai pikiran dan perasaan gelisah. Ia harus menjawab apa jika istrinya menanyakan jam tangan. Jika Marinah tahu kalau arloji itu ”di sekolahkan” di Silatunga, pasti marahnya tambah berlipat. Apalagi jam kesayangannya dibeli dengan sebagian uangnya dari hasil arisan istrinya.
Hari-hari selanjutnya, Madin pun kerap berkunjung ke Silatunga, membayar utangnya yang terasa mencekik. Sebab saat itu, uang dari Silatunga memang terpakai. Pada keesokan harinya sebagian uang berpindah ke tangan Gani, anaknya. Sebagian lagi untuk menyambung ongkos ke tempat kerja. Lalu, kepada istrinya, untuk pertama kalinya ia berbohong, bahwa jamnya jatuh ke bak mandi di kantor dan rusak sekarang tengah diperbaiki!**
*) Alit = kecil (Sunda)


Tebarkan Salam


Tebarkan Salam

Syariat  Islam  yang  sempurna  mengajarkan  kaum  muslimin  untuk  selalu meningkatkan kecintaan terhadap saudara semuslim, merekatkan persaudaraan dan kasih sayang.  Dan  untuk  mewujudkan  hubungan  persaudaraan  dan  kasih  sayang  ini,  maka syariat Islam memerintahkan untuk menyebarkan salam. Syiar Islam yang satu ini adalah termasuk syiar Islam yang sangat besar dan penting. Namun begitu,  sekarang  ini  salam  sering  sekali ditinggalkan dan diganti dengan  salam­ salam  yang  lain,  entah  itu  dengan  good  morning,  selamat  pagi,  selamat  siang,  salam sejahtera atau  sejenisnya. Tentunya  seorang muslim  tidak akan  rela apabila  syariat yang penuh  berkah  lagi  manfaat  ini  kemudian  diganti  dengan  ucapan­ucapan  lain.  Allah berfirman, "Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang  lebih baik?" (QS. al­Baqarah: 61). Dan sungguh apa yang ditetapkan Allah untuk manusia, itulah yang terbaik.
Perintah dari Allah
Allah  berfirman,  "Maka  apabila  kamu memasuki  (suatu  rumah  dari)  rumah­  rumah  (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik." (QS. An Nur: 61) Syaikh  Nashir  As  Sa'di  berkata,  "Firman­Nya:  Salam  dari  sisi  Allah,  maksudnya Allah  telah mensyari'atkan salam bagi kalian dan menjadikannya  sebagai penghormatan dan keberkahan yang terus berkembang dan bertambah. Adapun firman­Nya: yang diberi berkat lagi baik, maka hal tersebut karena salam termasuk kalimat yang baik dan dicintai Allah. Dengan salam maka jiwa akan menjadi baik serta dapat mendatangkan rasa cinta." (Lihat Taisir Karimir Rohman)
Perintah dari Nabi
Baro'  bin  Azib  berkata,  "Rasulullah  melarang  dan  memerintahkan  kami  dalam  tujuh perkara: Kami diperintah untuk mengiringi jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan menolong orang yang dizholimi, memperbagus pembagian, menjawab salam dan mendoakan orang yang  bersin..."  (HR.  Bukhari  dan  Muslim).  Ibnu  Hajar  Al  Asqalani  berkata,  "Perintah menjawab  salam  maksudnya  yaitu  menyebarkan  salam  di  antara  manusia  agar  mereka menghidupkan syariatnya." (Lihat Fathul Bari 11/23). Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu  'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah kalian masuk  surga  hingga  kalian  beriman.  Dan  tidaklah  kalian  beriman  hingga  saling  mencintai. Maukah kalian aku  tunjukkan suatu amalan yang  jika kalian kerjakan niscaya kalian akan saling mencintai?  Tebarkanlah  salam  di  antara  kalian."  (HR. Muslim).  Dari  Abdullah  bin  Salam, Rasulullah  bersabda,  "Wahai  sekalian  manusia,  tebarkanlah  salam  di  antara  kalian,  berilah makan sambunglah tali silaturahmi dan sholatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." (Shahih. Riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)Artikel www.muslim.or.id
Etika Salam
Imron bin Husain berkata,  "Ada  seorang  laki­laki yang datang kepada Nabi  seraya mengucapkan  Assalamu  'alaikum.  Maka  nabi  menjawabnya  dan  orang  itu  kemudian duduk. Nabi  berkata,  "Dia mendapat  sepuluh  pahala." Kemudian  datang  orang  yang  lain mengucapkan  Assalamu  'alaikum  warahmatullah. Maka  Nabi  menjawabnya  dan  berkata, "Dua  puluh  pahala  baginya."  Kemudian  ada  yang  datang  lagi  seraya  mengucapkan Assalamu  'alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Nabi pun menjawabnya dan berkata, "Dia mendapat tiga puluh pahala." (Shahih. Riwayat Abu dawud, Tirmidzi dan Ahmad)
Dari hadits tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.       Memulai salam hukumnya sunnah bagi setiap individu, berdasar pendapat terkuat.
2.       Menjawab salam hukumnya wajib, berdasarkan kesepakatan para ulama.
3.       Salam  yang  paling  utama  yaitu  dengan  mengucapkan  Assalamu'alaikum warahmatullahi  wa  barakatuh,  kemudian  Assalamu'alaikum  warahmatullah  dan  yang terakhir Assalamu'alaikum.
4.       Menjawab salam hendaknya dengan jawaban yang lebih baik, atau minimal serupa dengan  yang  mengucapkan.  Allah  berfirman  "Apabila  kamu  diberi  penghormatan dengan  sesuatu  penghormatan, maka  balaslah  penghormatan  itu  dengan  yang  lebih  baik dari padanya, atau balaslah penghormatan  itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu." (QS. an­Nisa: 86)
Dalam hadits  lain Rasulullah bersabda, "Hendaknya orang yang berkendaraan memberi salam kepada yang berjalan. Yang berjalan kepada yang duduk yang sedikit kepada yang banyak." (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam lafazh Bukhari, "Hendaklah yang muda kepada yang lebih tua." Demikianlah pengajaran Rasul tentang salam. Namun orang yang meninggalkan tata cara  salam  seperti  pada  hadits  ini  tidaklah  mendapat  dosa,  hanya  saja  dia  telah meninggalkan sesuatu yang utama.
Salam Kepada Orang Yang Dikenal dan Tidak Dikenal
Termasuk  mulianya  syariat  ini  ialah  diperintahkannya  kaum  muslimin  untuk memberi  salam  baik  pada  orang  yang  dikenal  maupun  orang  yang  belum  dikenal. Rasulullah  bersabda,  "Sesungguhnya  termasuk  tanda­tanda  hari  kiamat  apabila  salam  hanya ditujukan kepada orang yang telah dikenal." (Shahih. Riwayat Ahmad dan Thabrani).