White Rose Memory



Bab I

      “Non, sarapan sudah siap. Sudah siang. Nanti sekolahnya terlambat.” ucap salah satu karyawan di rumahku.
     “Iya, Bi. Bentar lagi ya.” jawabku terburu-buru.
     Itulah yang hampir setiap hari selalu kualami di rumah. Aku Cleva Arabella, aku anak bungsu dari dua bersaudara. Jadi jangan heran kalau aku manja setengah mati.
     Ayahku berkebangsaan Jepang yang bernama Yukino Akira sedangkan Bundaku asli orang Indonesia dan bernama Laura Arabella.
     Aku tinggal terpisah dengan kedua orangtuaku, karena perusahaan keluarga besarku berada di Jepang. Sehingga Ayah dan Bundaku harus berada di sana untuk mengelola perusahaan kami.
     Aku tinggal di sebuah rumah mewah di Jakarta bersama kakakku. Dia bernama Hulberta Yoga seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Sastra Perancis. Kini aku duduk di bangku Kelas XII IPA Unggulan di sebuah SMU Negeri di Jakarta.
     Aku bukan tipe cewek feminin, aku selalu cuek pada penampilanku setiap harinya. Rambut panjangku selalu dikuncir dan styleku selalu terkesan tomboy. Sejak kecil saja, aku sudah seneng banget sama warna biru. Buatku warna biru itu melambangkan kedamaian, jadinya aku harap dengan aku suka sama warna biru kedamaian selalu menghiasi setiap langkahku.
     Semenjak SMP aku mempunyai dua orang sahabat. Mereka adalah Hywel Evelyna Kinantan dan Alzena Rifdah Musthafa.  Meskipun aku, Elyn, dan Ifda tidak berada di kelas yang sama, tetapi semuanya tetap berjalan lancar seperti apa yang kami bertiga inginkan.
     Bahkan, perbedaan agama di antara kami bertiga tidak mampu merenggangkan jalinan persahabatan yang telah kami rajut selama ini. Karena aku dan Ifda beragama Islam, sedangkan Elyn beragama Katholik.
     Beberapa hari berlalu, sepulang sekolah ketika kami melewati koridor samping kantin tiba-tiba Elyn tidak sengaja membaca pengumuman sekolah dan dia langsung membacanya keras-keras.     
     “Seleksi Ketua Cheers? Uh…so sweet,” ungkap Elyn terkejut.
     “Hah? Emang penting ya? Gak banget dech!” jawabku ketus.
     “Ya iyalah! Kan keren kalo bisa tenar lewat ajang ini…” sahut Elyn manja.
     “Memangnya kenapa, Lyn? Tertarik?” tanya Ifda.
     “Yup.” jawab Elyn singkat.
     “Ih, lo itu pikirannya pendek banget sich? Apa bagusnya coba jadi anak Cheers?” sela aku.
     “Cle, kamu mesti menghargai keinginan Elyn dong. Kan dia pengin sukses.” seru Ifda.
     “Iya nech, lo gak suka ya?” tanya Elyn.
     “Ah, terserah lah. Gue ngikut aja. Dasar centil!” jawabku cuek.
     “Apaan sich kamu. Ada temen lagi berjuang kok cuek.” Elyn menyela.
     Tiba-tiba musik beraliran jazz terdengar dari saku rokku. Setelah kulihat, ternyata ada sms dari Kak Yoga.
     Blue, kamu lagi di mana? lez.
     Itulah panggilan kesayangan dari Kak Yoga padaku, coz sejak kecil aku sangat tergila-
gila sama warna biru. Aku membalasnya dengan segera.
Gue masih di skul, ni ma temen2. Ada apa? Tumben nech, Kakak ngebutuhin gue. Emangnya da apa?
     Elyn dan Ifda penasaran, mereka menanyakan siapa yang mengirim sms padaku.
     “Cle, sms dari siapa seeh?”
     “Biasa ni, dari Kak Yoga.”
     Hpku bergetar lagi, segera kubuka sms yang tertera di layar.
Sore ini Shera mw dateng ke rumah. Kamu sekitar jam 4an dah di rumah, lho!
     Aku merasa terganggu dengan sms dari kakakku, sikap acuhku mulai kumat lagi. Melihat tingkah anehku, Elyn dan Ifda segera mengajakku pulang.
     “Woi, lo kenapa? Ada setan lewat ya?” tanya Elyn penasaran.
     “Tahu ah, bete.”
     Begitulah yang selalu terjadi pada kami. Selalu memperbesar masalah yang sebenarnya sangat sepele.
     Bahkan pemicunya adalah sikap slenyekanku yang kadang-kadang membuat orang tidak tahan melihatnya.
     Tidak terlebih Elyn yang jalan pikirannya selalu bertolak belakang denganku. Secara, Elyn itu sosok cewek centil yang maniak sama warna pink.
     Sehingga kami selalu berselisih pendapat, terutama tentang gaya hidup kami setiap harinya. Hanya saja, kelembutan sikap Ifda selalu bisa menjadi penengah di antara perselisihanku dengan Elyn.

‚‚‚

     Seminggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu Elyn tiba. Karena terlalu asyik berkhayal semalaman, dia sampai-sampai bangun kesiangan.
     “Elyn, bangun sayang! Dah siang nich.” ucap Tante Vania.
     “Ah…Mama…Elyn masih ngantuk…” jawab Elyn malas.
     “Sayang, kamu kan harus sekolah. Ini bukan hari Minggu. Cepetan, kamu udah ditunggu Papa di bawah”
     “Ma, bilangin Papa kalo Elyn berangkatnya dianterin sopir.”
     “Elyn, bukannya hari ini kamu ada seleksi Cheers?
     “Eh iya…iya…Mama. Just a minute.” jawab Elyn singkat.
     Tak berapa lama Elyn segera menyusul Papa dan Mamanya di meja makan. Dengan semangat Elyn segera memberi ciuman hangat untuk kedua orangtuanya.
     “Waduh..waduh..putri kecil Papa kayaknya senang sekali?” tanya Papa Elyn.
     “Pasti dong, kan hari in spesial banget buat Elyn.” jawab Elyn menggebu-gebu.
     “Iya nich Pa, gadis kecil kita mau seleksi Cheerleaders di sekolahnya. Jadinya bertingkah aneh deh.”
     Tiba-tiba handphone Elyn berdering, aku tertarik buat menggoda dia pagi-pagi.
     “Hai bro, lo udah berangkat belom? Gerbang udah nyaris ditutup nech.” godaku.
     “Eh...bentar lagi gue berangkat. Cle, tahanin Pak Satpam ya? pinta Elyn.
     “Idih, ogah lah yeee. Dasar putri solo kesiangan. Dah dulu ya, gue mau masuk ne. Bye.....” ucapanku terpotong.
     “Tunggu...yah...Cleva gak cs dech. Sebel!” keluh Elyn.
     Bunda Vania semakin tidak tahan melihat kelakuan putri tunggalnya tersebut. Secara, udah ditunggu dari tadi tapi di malah terlalu asyik menerima telepon dariku yang sebenarnya mengganggu waktu singkatnya.
     “Udah, cepetan sarapannya. Nanti kamu terlambat sampai sekolah.”
     “I..iya..iya. Elyn berangkat dulu ya, Ma. Dah,” ucap Elyn tergesa-gesa.
     “Hati-hati, sayang.” jawab Tante Vania.

‚‚‚

download lengkap>>

0 komentar:

Posting Komentar

give me our positive comment please...