My Love Story




Langkah ini terasa sangat berat ketika harus menapakkan kaki di bangku SMP. Meskipun satu hal telah berhasil aku capai, tetapi hal ini justru membuatku menjadi sempat terserang keraguan yang cukup mendalam. Sekolah favorit di kota kelahiranku tercinta ini telah di pelupuk mata. Aku bukanlah orang yang terbiasa tinggal di perkotaan yang suasananya begitu ramai dan tak tentu. Tempat tinggalku yang cukup jauh dari pusat pemerintahan kota tak membuatku patah arang dalam menjalani pendidikanku ke depan.
Pagi ini aku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Menurut jadwal, hari ini adalah hari pertama MOS atau Masa Orientasi Siswa. Dalam hati, aku sama sekali tak mengerti apa dan bagaimana yang disebut MOS itu. Apalagi ini kali pertamanya aku naik angkutan umum sendirian ke pusat kota. Rasanya menjadi semakin ragu untuk mengayunkan langkah.
Dengan langkah gontai, aku memasuki kelasku yaitu VII_C.
“Yas, duduk sama aku yuk?” tawar Ratna seseorang yang sudah kukenal sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Boleh.” jawabku cukup santai.
Memasuki kelas membuatku sedikit canggung. Entah dengan jumlah siswanya yang menurutku sangat banyak hingga ketimpangan kondisi ekonomi teman-teman satu kelas. Kakak kelas yang menjadi panitia MOS terkesan sangat menjaga wibawa di depan adik-adik. Untungnya, aku dapat cukup akrab dengan pendamping kelasku. Dia bernama Kak Esti siswi kelas II_A.
Ketika session Wawasan Wiyata Mandala di aula sekolah, kedua bola mata ini seketika terpaku melihat salah satu panitia yang cukup manis dipandang. Hatiku berdesir, aku yakin ini hanyalah perasaan kagum seorang penggemar pada idolanya. Ternyata dia bernama Kak Tivan siswa kelas III_E.
Session selanjutnya adalah forum diskusi. Tiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Di dalam kelompokku terdapat dua orang siswi dan tiga orang siswa. Tiba-tiba salah satu siswa di kelompokku mengawali diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang tanggung, biasa lah menanyakan anggota kelompok kami. Ketika dia bertanya padaku, entah kenapa ada sesuatu yang aneh. Saat itulah aku mengenalnya dan aku memanggilnya Dhyka. Dia adalah seorang cowok yang tegas, cerdas, dan berpola pikir yang cukup dewasa dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Dalam tahun ajaran baru, pasti selalu ditentukan pengurus kelas untuk mengabdikan dirinya demi kemajuan dan kekompakan kelas. Setelah voting berlangsung, akhirnya diputuskan bahwa Geza menjadi ketua kelas kami.
Dhyka ternyata berperan sebagai wakil ketua kelas dan aku sebagai sekretaris kelas. Seiring berjalannya waktu, pertemanan kami menjadi semakin erat. Apalagi dengan jabatan kami di kelas yang menjadikan kami cukup sering terlibat kegiatan yang sama.
Awalnya aku merasa biasa saja dengan kedekatan kami. Lambat laun, serasa ada sesuatu yang menyerangku. Bahkan aku sempat menganggap lain semua perhatian yang dia curahkan padaku. Parahnya, kedekatan ini membuatku sejenak melupakan kekagumanku pada Kak Tivan. Suatu saat, ketika ada perayaan HUT RI di sekolah aku mengikuti lomba karaoke antar kelas. Pada saat yang bersamaan juga sedang diadakan lomba lukis dinding yang diikuti oleh Dhyka, di tempat parkir sepeda. Ketika tiba giliranku tampil di aula, saat itu aku hanya ditemani teman-teman kelas VII_C yang setia mendukungku. Melihat ke arah sekeliling sama sekali tak tampak wajah Dhyka yang selalu tersenyum memberikan dukungan padaku. Terbesit rasa kekecewaan yang tak jelas apa dasarnya.
Namun, di sisi lain ternyata ada Kak Tivan yang menyaksikan penampilanku. Sebuah senyuman yang begitu indah tersungging di bibirnya. Dia benar-benar sudah cukup mengenalku. Hal ini membuatku semakin percaya diri dalam menyajikan lagu yang kunyanyikan ini pada semua orang tanpa peduli ada dan tidaknya Dhyka di hadapanku.
Kehadiran Kak Tivan di perlombaan tadi benar-benar memberikan semangat tersendiri untukku. Hasilnya benar-benar memuaskan, gelar juara karaoke terbaik di sekolah telah dapat kuraih dengan nyaris sempurna. Apalagi kali ini keberuntungan sedang berada di pihak kelasku. Beberapa perlombaan dapat kami raih dengan hasil terbaik hingga nama kelas VII_C jadi mendadak melambung seantero sekolah.
Mengetahui hal tersebut, Dhyka mengucapkan selamat atas kemenanganku ini. Entah apa yang sedang terjadi, sikapku menjadi dingin padanya. Namun dalam hati terasa nggak rela untuk bersikap seperti itu pada Dhyka.
Seiring berjalannya waktu, aku menjadi semakin sering memikirkan Dhyka. Ketika dia ada di dekatku, rasanya aku menjadi malu. Namun di saat dia tak bersamaku, seperti ada rasa kehilangan akan kehadirannya. Apa benar yang sedang aku rasakan ini yang disebut cinta? Entahlah.
Semakin lama rasa ini semakin kuat, dan dengan segenap kepercayaan diri yang masih kumiliki akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang menderaku ini. Sepucuk surat yang tertorehkan semua perasaan ini kuberikan padanya melalui salah satu teman dekatku.
Tak kuduga, Dhyka membaca surat dariku itu di dalam kelas ketika bel istirahat. Parahnya ketika aku juga berada di dalam kelas. Waduh, mau ditaruh mana nih aku punya muka. Entah apa yang saat ini terjadi pada wajahku ini. Pasti sudah seperti tomat matang. He..he..
Ternyata dia memberikan respon yang baik pada ajakanku untuk pergi ke sebuah tempat makan yang cukup dekat dari sekolah. Siangnya setelah pulang sekolah, kami pergi ke sana ditemani Geza dan Rara.
Suasana benar-benar menjadi tegang. Entah apa yang akan dia katakan padaku mengenai surat yang dia baca pagi tadi. Sedangkan Geza dan Rara terus-terusan menggoda kami berdua. Suasana hening sekejap, saat itulah Dhyka mengawali pembicaraan. Apakah yang terjadi? Ternyata Dhyka juga merasakan hal yang sama. Hari ini juga kami berdua resmi terikat status yang lebih dari sekedar teman. Benar-benar akhir bulan Agustus yang begitu indah bagiku.
Tak lama sikap Dhyka menjadi aneh. Dia seakan menghindar setiap bertemu padaku. Padahal jelas-jelas ada sesuatu yang spesial di antara kami berdua. Dalam situasi yang tak mengenakkan ini, dia justru menjadi semakin dekat dengan Rosi dan Ara. Awalnya aku biasa saja dengan kedekatan mereka, tetapi lama-kelamaan sikap Rosi terhadap Dhyka menjadi agak berlebihan. Apalagi masih banyak terdengar gosip yang cukup hangat yang menyebutkan bahwa Dhyka masih menaruh hati pada seseorang yang sempat dia taksir sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Dikejar rasa penasaran, akhirnya aku mencari tahu seperti apa sih cewek yang bernama Wulan itu. Setelah aku tahu sekilas tentang gadis itu, nafasku terasa sesak dan aku masih mempertahankan segenap rasa percayaku pada Dhyka kalau dia sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi terhadap Wulan.
Namun, di saat kebimbangan sedang melanda hatiku suatu hari beberapa temanku kedapatan sedang mempergunjingkan Dhyka dan Rosi. Mereka mengatakan padaku bahwa akhir-akhir ini kedekatan Dhyka dan Rosi semakin menjadi. Parahnya, Rosi menjadi semakin berani terhadap Dhyka. Konon, mereka sering melihat Rosi menggandeng tangan Dhyka ketika mereka jalan bersama.
Hatiku benar-benar hancur saat itu juga. Tanpa pikir panjang, aku segera menulis surat dan menyatakan keinginanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Dhyka. Setelah surat itu kuberikan dan sepertinya telah dibaca oleh Dhyka, tiba-tiba Geza menanyakan tentang kejelasan hubunganku dengan Dhyka. Aku tak dapat menahan emosi yang menggebu ini. Hingga butiran air mata tertumpah dari sudut mataku.
Aku merasakan apabila Dhyka tampak merasa cukup bersalah dengan apa yang telah terjadi pada kami berdua. Namun, aku memutuskan untuk bersikap acuh seacuh-acuhnya pada Dhyka.
Beberapa bulan telah terlewati, kami benar-benar berada dalam posisi yang membuat kami berdua menjadi sangat jauh. Namun, belakangan ini pertemanan kami mulai terjalin kembali. Semuanya benar-benar berawal dari nol.
Sayangnya, rasa yang pernah ada dalam hatiku seakan telah hambar. Aku seakan hanya menganggap Dhyka sebatas teman sekelas. Dalam posisi seperti ini, justru perasaanku terhadap Kak Tivan menjadi semakin kuat. Bukannya keGR-an, tapi sepertinya Kak Tivan merespon perhatianku padanya dan di sisi lain Dhyka seperti tidak terlalu menyukai kedekatanku dengan Kak Tivan.
Awal bulan Januari ini diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan. Sebagai salah satu pengurus kelas, mau tidak mau aku harus ikut berpartisipasi. Asyiknya, ada Kak Tivan loh…
Sebenarnya aku sangat menginginkan yang menjadi pendamping kelompokku adalah Kak Tivan. Sayangnya, kami tak dipertemukan dalam kelompok yang sama. Tak apa, karena dalam kegiatan yang dilakukan selama beberapa hari ini melewati hari ulang tahun Kak Tivan.
Dengan segenap keyakinan yang masih tersisa, kuberanikan diri untuk memberikan kado istimewa dan ucapan selamat padanya ketika jam istirahat. Dia menyambutku dengan penuh keramahan. Tutur kata yang terucap dari bibirnya begitu lembut, tatapan hangatnya meluluhkan hatiku.
read more>>

White Rose Memory



Bab I

      “Non, sarapan sudah siap. Sudah siang. Nanti sekolahnya terlambat.” ucap salah satu karyawan di rumahku.
     “Iya, Bi. Bentar lagi ya.” jawabku terburu-buru.
     Itulah yang hampir setiap hari selalu kualami di rumah. Aku Cleva Arabella, aku anak bungsu dari dua bersaudara. Jadi jangan heran kalau aku manja setengah mati.
     Ayahku berkebangsaan Jepang yang bernama Yukino Akira sedangkan Bundaku asli orang Indonesia dan bernama Laura Arabella.
     Aku tinggal terpisah dengan kedua orangtuaku, karena perusahaan keluarga besarku berada di Jepang. Sehingga Ayah dan Bundaku harus berada di sana untuk mengelola perusahaan kami.
     Aku tinggal di sebuah rumah mewah di Jakarta bersama kakakku. Dia bernama Hulberta Yoga seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Sastra Perancis. Kini aku duduk di bangku Kelas XII IPA Unggulan di sebuah SMU Negeri di Jakarta.
     Aku bukan tipe cewek feminin, aku selalu cuek pada penampilanku setiap harinya. Rambut panjangku selalu dikuncir dan styleku selalu terkesan tomboy. Sejak kecil saja, aku sudah seneng banget sama warna biru. Buatku warna biru itu melambangkan kedamaian, jadinya aku harap dengan aku suka sama warna biru kedamaian selalu menghiasi setiap langkahku.
     Semenjak SMP aku mempunyai dua orang sahabat. Mereka adalah Hywel Evelyna Kinantan dan Alzena Rifdah Musthafa.  Meskipun aku, Elyn, dan Ifda tidak berada di kelas yang sama, tetapi semuanya tetap berjalan lancar seperti apa yang kami bertiga inginkan.
     Bahkan, perbedaan agama di antara kami bertiga tidak mampu merenggangkan jalinan persahabatan yang telah kami rajut selama ini. Karena aku dan Ifda beragama Islam, sedangkan Elyn beragama Katholik.
     Beberapa hari berlalu, sepulang sekolah ketika kami melewati koridor samping kantin tiba-tiba Elyn tidak sengaja membaca pengumuman sekolah dan dia langsung membacanya keras-keras.     
     “Seleksi Ketua Cheers? Uh…so sweet,” ungkap Elyn terkejut.
     “Hah? Emang penting ya? Gak banget dech!” jawabku ketus.
     “Ya iyalah! Kan keren kalo bisa tenar lewat ajang ini…” sahut Elyn manja.
     “Memangnya kenapa, Lyn? Tertarik?” tanya Ifda.
     “Yup.” jawab Elyn singkat.
     “Ih, lo itu pikirannya pendek banget sich? Apa bagusnya coba jadi anak Cheers?” sela aku.
     “Cle, kamu mesti menghargai keinginan Elyn dong. Kan dia pengin sukses.” seru Ifda.
     “Iya nech, lo gak suka ya?” tanya Elyn.
     “Ah, terserah lah. Gue ngikut aja. Dasar centil!” jawabku cuek.
     “Apaan sich kamu. Ada temen lagi berjuang kok cuek.” Elyn menyela.
     Tiba-tiba musik beraliran jazz terdengar dari saku rokku. Setelah kulihat, ternyata ada sms dari Kak Yoga.
     Blue, kamu lagi di mana? lez.
     Itulah panggilan kesayangan dari Kak Yoga padaku, coz sejak kecil aku sangat tergila-
gila sama warna biru. Aku membalasnya dengan segera.
Gue masih di skul, ni ma temen2. Ada apa? Tumben nech, Kakak ngebutuhin gue. Emangnya da apa?
     Elyn dan Ifda penasaran, mereka menanyakan siapa yang mengirim sms padaku.
     “Cle, sms dari siapa seeh?”
     “Biasa ni, dari Kak Yoga.”
     Hpku bergetar lagi, segera kubuka sms yang tertera di layar.
Sore ini Shera mw dateng ke rumah. Kamu sekitar jam 4an dah di rumah, lho!
     Aku merasa terganggu dengan sms dari kakakku, sikap acuhku mulai kumat lagi. Melihat tingkah anehku, Elyn dan Ifda segera mengajakku pulang.
     “Woi, lo kenapa? Ada setan lewat ya?” tanya Elyn penasaran.
     “Tahu ah, bete.”
     Begitulah yang selalu terjadi pada kami. Selalu memperbesar masalah yang sebenarnya sangat sepele.
     Bahkan pemicunya adalah sikap slenyekanku yang kadang-kadang membuat orang tidak tahan melihatnya.
     Tidak terlebih Elyn yang jalan pikirannya selalu bertolak belakang denganku. Secara, Elyn itu sosok cewek centil yang maniak sama warna pink.
     Sehingga kami selalu berselisih pendapat, terutama tentang gaya hidup kami setiap harinya. Hanya saja, kelembutan sikap Ifda selalu bisa menjadi penengah di antara perselisihanku dengan Elyn.

‚‚‚

     Seminggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu Elyn tiba. Karena terlalu asyik berkhayal semalaman, dia sampai-sampai bangun kesiangan.
     “Elyn, bangun sayang! Dah siang nich.” ucap Tante Vania.
     “Ah…Mama…Elyn masih ngantuk…” jawab Elyn malas.
     “Sayang, kamu kan harus sekolah. Ini bukan hari Minggu. Cepetan, kamu udah ditunggu Papa di bawah”
     “Ma, bilangin Papa kalo Elyn berangkatnya dianterin sopir.”
     “Elyn, bukannya hari ini kamu ada seleksi Cheers?
     “Eh iya…iya…Mama. Just a minute.” jawab Elyn singkat.
     Tak berapa lama Elyn segera menyusul Papa dan Mamanya di meja makan. Dengan semangat Elyn segera memberi ciuman hangat untuk kedua orangtuanya.
     “Waduh..waduh..putri kecil Papa kayaknya senang sekali?” tanya Papa Elyn.
     “Pasti dong, kan hari in spesial banget buat Elyn.” jawab Elyn menggebu-gebu.
     “Iya nich Pa, gadis kecil kita mau seleksi Cheerleaders di sekolahnya. Jadinya bertingkah aneh deh.”
     Tiba-tiba handphone Elyn berdering, aku tertarik buat menggoda dia pagi-pagi.
     “Hai bro, lo udah berangkat belom? Gerbang udah nyaris ditutup nech.” godaku.
     “Eh...bentar lagi gue berangkat. Cle, tahanin Pak Satpam ya? pinta Elyn.
     “Idih, ogah lah yeee. Dasar putri solo kesiangan. Dah dulu ya, gue mau masuk ne. Bye.....” ucapanku terpotong.
     “Tunggu...yah...Cleva gak cs dech. Sebel!” keluh Elyn.
     Bunda Vania semakin tidak tahan melihat kelakuan putri tunggalnya tersebut. Secara, udah ditunggu dari tadi tapi di malah terlalu asyik menerima telepon dariku yang sebenarnya mengganggu waktu singkatnya.
     “Udah, cepetan sarapannya. Nanti kamu terlambat sampai sekolah.”
     “I..iya..iya. Elyn berangkat dulu ya, Ma. Dah,” ucap Elyn tergesa-gesa.
     “Hati-hati, sayang.” jawab Tante Vania.

‚‚‚

download lengkap>>