Disc Drop

My Love Story




Langkah ini terasa sangat berat ketika harus menapakkan kaki di bangku SMP. Meskipun satu hal telah berhasil aku capai, tetapi hal ini justru membuatku menjadi sempat terserang keraguan yang cukup mendalam. Sekolah favorit di kota kelahiranku tercinta ini telah di pelupuk mata. Aku bukanlah orang yang terbiasa tinggal di perkotaan yang suasananya begitu ramai dan tak tentu. Tempat tinggalku yang cukup jauh dari pusat pemerintahan kota tak membuatku patah arang dalam menjalani pendidikanku ke depan.
Pagi ini aku bersiap untuk berangkat ke sekolah. Menurut jadwal, hari ini adalah hari pertama MOS atau Masa Orientasi Siswa. Dalam hati, aku sama sekali tak mengerti apa dan bagaimana yang disebut MOS itu. Apalagi ini kali pertamanya aku naik angkutan umum sendirian ke pusat kota. Rasanya menjadi semakin ragu untuk mengayunkan langkah.
Dengan langkah gontai, aku memasuki kelasku yaitu VII_C.
“Yas, duduk sama aku yuk?” tawar Ratna seseorang yang sudah kukenal sejak duduk di bangku sekolah dasar.
“Boleh.” jawabku cukup santai.
Memasuki kelas membuatku sedikit canggung. Entah dengan jumlah siswanya yang menurutku sangat banyak hingga ketimpangan kondisi ekonomi teman-teman satu kelas. Kakak kelas yang menjadi panitia MOS terkesan sangat menjaga wibawa di depan adik-adik. Untungnya, aku dapat cukup akrab dengan pendamping kelasku. Dia bernama Kak Esti siswi kelas II_A.
Ketika session Wawasan Wiyata Mandala di aula sekolah, kedua bola mata ini seketika terpaku melihat salah satu panitia yang cukup manis dipandang. Hatiku berdesir, aku yakin ini hanyalah perasaan kagum seorang penggemar pada idolanya. Ternyata dia bernama Kak Tivan siswa kelas III_E.
Session selanjutnya adalah forum diskusi. Tiap kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Di dalam kelompokku terdapat dua orang siswi dan tiga orang siswa. Tiba-tiba salah satu siswa di kelompokku mengawali diskusi dengan mengajukan pertanyaan yang tanggung, biasa lah menanyakan anggota kelompok kami. Ketika dia bertanya padaku, entah kenapa ada sesuatu yang aneh. Saat itulah aku mengenalnya dan aku memanggilnya Dhyka. Dia adalah seorang cowok yang tegas, cerdas, dan berpola pikir yang cukup dewasa dalam menyelesaikan sebuah masalah.
Dalam tahun ajaran baru, pasti selalu ditentukan pengurus kelas untuk mengabdikan dirinya demi kemajuan dan kekompakan kelas. Setelah voting berlangsung, akhirnya diputuskan bahwa Geza menjadi ketua kelas kami.
Dhyka ternyata berperan sebagai wakil ketua kelas dan aku sebagai sekretaris kelas. Seiring berjalannya waktu, pertemanan kami menjadi semakin erat. Apalagi dengan jabatan kami di kelas yang menjadikan kami cukup sering terlibat kegiatan yang sama.
Awalnya aku merasa biasa saja dengan kedekatan kami. Lambat laun, serasa ada sesuatu yang menyerangku. Bahkan aku sempat menganggap lain semua perhatian yang dia curahkan padaku. Parahnya, kedekatan ini membuatku sejenak melupakan kekagumanku pada Kak Tivan. Suatu saat, ketika ada perayaan HUT RI di sekolah aku mengikuti lomba karaoke antar kelas. Pada saat yang bersamaan juga sedang diadakan lomba lukis dinding yang diikuti oleh Dhyka, di tempat parkir sepeda. Ketika tiba giliranku tampil di aula, saat itu aku hanya ditemani teman-teman kelas VII_C yang setia mendukungku. Melihat ke arah sekeliling sama sekali tak tampak wajah Dhyka yang selalu tersenyum memberikan dukungan padaku. Terbesit rasa kekecewaan yang tak jelas apa dasarnya.
Namun, di sisi lain ternyata ada Kak Tivan yang menyaksikan penampilanku. Sebuah senyuman yang begitu indah tersungging di bibirnya. Dia benar-benar sudah cukup mengenalku. Hal ini membuatku semakin percaya diri dalam menyajikan lagu yang kunyanyikan ini pada semua orang tanpa peduli ada dan tidaknya Dhyka di hadapanku.
Kehadiran Kak Tivan di perlombaan tadi benar-benar memberikan semangat tersendiri untukku. Hasilnya benar-benar memuaskan, gelar juara karaoke terbaik di sekolah telah dapat kuraih dengan nyaris sempurna. Apalagi kali ini keberuntungan sedang berada di pihak kelasku. Beberapa perlombaan dapat kami raih dengan hasil terbaik hingga nama kelas VII_C jadi mendadak melambung seantero sekolah.
Mengetahui hal tersebut, Dhyka mengucapkan selamat atas kemenanganku ini. Entah apa yang sedang terjadi, sikapku menjadi dingin padanya. Namun dalam hati terasa nggak rela untuk bersikap seperti itu pada Dhyka.
Seiring berjalannya waktu, aku menjadi semakin sering memikirkan Dhyka. Ketika dia ada di dekatku, rasanya aku menjadi malu. Namun di saat dia tak bersamaku, seperti ada rasa kehilangan akan kehadirannya. Apa benar yang sedang aku rasakan ini yang disebut cinta? Entahlah.
Semakin lama rasa ini semakin kuat, dan dengan segenap kepercayaan diri yang masih kumiliki akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang menderaku ini. Sepucuk surat yang tertorehkan semua perasaan ini kuberikan padanya melalui salah satu teman dekatku.
Tak kuduga, Dhyka membaca surat dariku itu di dalam kelas ketika bel istirahat. Parahnya ketika aku juga berada di dalam kelas. Waduh, mau ditaruh mana nih aku punya muka. Entah apa yang saat ini terjadi pada wajahku ini. Pasti sudah seperti tomat matang. He..he..
Ternyata dia memberikan respon yang baik pada ajakanku untuk pergi ke sebuah tempat makan yang cukup dekat dari sekolah. Siangnya setelah pulang sekolah, kami pergi ke sana ditemani Geza dan Rara.
Suasana benar-benar menjadi tegang. Entah apa yang akan dia katakan padaku mengenai surat yang dia baca pagi tadi. Sedangkan Geza dan Rara terus-terusan menggoda kami berdua. Suasana hening sekejap, saat itulah Dhyka mengawali pembicaraan. Apakah yang terjadi? Ternyata Dhyka juga merasakan hal yang sama. Hari ini juga kami berdua resmi terikat status yang lebih dari sekedar teman. Benar-benar akhir bulan Agustus yang begitu indah bagiku.
Tak lama sikap Dhyka menjadi aneh. Dia seakan menghindar setiap bertemu padaku. Padahal jelas-jelas ada sesuatu yang spesial di antara kami berdua. Dalam situasi yang tak mengenakkan ini, dia justru menjadi semakin dekat dengan Rosi dan Ara. Awalnya aku biasa saja dengan kedekatan mereka, tetapi lama-kelamaan sikap Rosi terhadap Dhyka menjadi agak berlebihan. Apalagi masih banyak terdengar gosip yang cukup hangat yang menyebutkan bahwa Dhyka masih menaruh hati pada seseorang yang sempat dia taksir sewaktu duduk di bangku sekolah dasar. Dikejar rasa penasaran, akhirnya aku mencari tahu seperti apa sih cewek yang bernama Wulan itu. Setelah aku tahu sekilas tentang gadis itu, nafasku terasa sesak dan aku masih mempertahankan segenap rasa percayaku pada Dhyka kalau dia sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi terhadap Wulan.
Namun, di saat kebimbangan sedang melanda hatiku suatu hari beberapa temanku kedapatan sedang mempergunjingkan Dhyka dan Rosi. Mereka mengatakan padaku bahwa akhir-akhir ini kedekatan Dhyka dan Rosi semakin menjadi. Parahnya, Rosi menjadi semakin berani terhadap Dhyka. Konon, mereka sering melihat Rosi menggandeng tangan Dhyka ketika mereka jalan bersama.
Hatiku benar-benar hancur saat itu juga. Tanpa pikir panjang, aku segera menulis surat dan menyatakan keinginanku untuk mengakhiri hubunganku dengan Dhyka. Setelah surat itu kuberikan dan sepertinya telah dibaca oleh Dhyka, tiba-tiba Geza menanyakan tentang kejelasan hubunganku dengan Dhyka. Aku tak dapat menahan emosi yang menggebu ini. Hingga butiran air mata tertumpah dari sudut mataku.
Aku merasakan apabila Dhyka tampak merasa cukup bersalah dengan apa yang telah terjadi pada kami berdua. Namun, aku memutuskan untuk bersikap acuh seacuh-acuhnya pada Dhyka.
Beberapa bulan telah terlewati, kami benar-benar berada dalam posisi yang membuat kami berdua menjadi sangat jauh. Namun, belakangan ini pertemanan kami mulai terjalin kembali. Semuanya benar-benar berawal dari nol.
Sayangnya, rasa yang pernah ada dalam hatiku seakan telah hambar. Aku seakan hanya menganggap Dhyka sebatas teman sekelas. Dalam posisi seperti ini, justru perasaanku terhadap Kak Tivan menjadi semakin kuat. Bukannya keGR-an, tapi sepertinya Kak Tivan merespon perhatianku padanya dan di sisi lain Dhyka seperti tidak terlalu menyukai kedekatanku dengan Kak Tivan.
Awal bulan Januari ini diadakan Latihan Dasar Kepemimpinan. Sebagai salah satu pengurus kelas, mau tidak mau aku harus ikut berpartisipasi. Asyiknya, ada Kak Tivan loh…
Sebenarnya aku sangat menginginkan yang menjadi pendamping kelompokku adalah Kak Tivan. Sayangnya, kami tak dipertemukan dalam kelompok yang sama. Tak apa, karena dalam kegiatan yang dilakukan selama beberapa hari ini melewati hari ulang tahun Kak Tivan.
Dengan segenap keyakinan yang masih tersisa, kuberanikan diri untuk memberikan kado istimewa dan ucapan selamat padanya ketika jam istirahat. Dia menyambutku dengan penuh keramahan. Tutur kata yang terucap dari bibirnya begitu lembut, tatapan hangatnya meluluhkan hatiku.
read more>>

White Rose Memory



Bab I

      “Non, sarapan sudah siap. Sudah siang. Nanti sekolahnya terlambat.” ucap salah satu karyawan di rumahku.
     “Iya, Bi. Bentar lagi ya.” jawabku terburu-buru.
     Itulah yang hampir setiap hari selalu kualami di rumah. Aku Cleva Arabella, aku anak bungsu dari dua bersaudara. Jadi jangan heran kalau aku manja setengah mati.
     Ayahku berkebangsaan Jepang yang bernama Yukino Akira sedangkan Bundaku asli orang Indonesia dan bernama Laura Arabella.
     Aku tinggal terpisah dengan kedua orangtuaku, karena perusahaan keluarga besarku berada di Jepang. Sehingga Ayah dan Bundaku harus berada di sana untuk mengelola perusahaan kami.
     Aku tinggal di sebuah rumah mewah di Jakarta bersama kakakku. Dia bernama Hulberta Yoga seorang mahasiswa Universitas Indonesia jurusan Sastra Perancis. Kini aku duduk di bangku Kelas XII IPA Unggulan di sebuah SMU Negeri di Jakarta.
     Aku bukan tipe cewek feminin, aku selalu cuek pada penampilanku setiap harinya. Rambut panjangku selalu dikuncir dan styleku selalu terkesan tomboy. Sejak kecil saja, aku sudah seneng banget sama warna biru. Buatku warna biru itu melambangkan kedamaian, jadinya aku harap dengan aku suka sama warna biru kedamaian selalu menghiasi setiap langkahku.
     Semenjak SMP aku mempunyai dua orang sahabat. Mereka adalah Hywel Evelyna Kinantan dan Alzena Rifdah Musthafa.  Meskipun aku, Elyn, dan Ifda tidak berada di kelas yang sama, tetapi semuanya tetap berjalan lancar seperti apa yang kami bertiga inginkan.
     Bahkan, perbedaan agama di antara kami bertiga tidak mampu merenggangkan jalinan persahabatan yang telah kami rajut selama ini. Karena aku dan Ifda beragama Islam, sedangkan Elyn beragama Katholik.
     Beberapa hari berlalu, sepulang sekolah ketika kami melewati koridor samping kantin tiba-tiba Elyn tidak sengaja membaca pengumuman sekolah dan dia langsung membacanya keras-keras.     
     “Seleksi Ketua Cheers? Uh…so sweet,” ungkap Elyn terkejut.
     “Hah? Emang penting ya? Gak banget dech!” jawabku ketus.
     “Ya iyalah! Kan keren kalo bisa tenar lewat ajang ini…” sahut Elyn manja.
     “Memangnya kenapa, Lyn? Tertarik?” tanya Ifda.
     “Yup.” jawab Elyn singkat.
     “Ih, lo itu pikirannya pendek banget sich? Apa bagusnya coba jadi anak Cheers?” sela aku.
     “Cle, kamu mesti menghargai keinginan Elyn dong. Kan dia pengin sukses.” seru Ifda.
     “Iya nech, lo gak suka ya?” tanya Elyn.
     “Ah, terserah lah. Gue ngikut aja. Dasar centil!” jawabku cuek.
     “Apaan sich kamu. Ada temen lagi berjuang kok cuek.” Elyn menyela.
     Tiba-tiba musik beraliran jazz terdengar dari saku rokku. Setelah kulihat, ternyata ada sms dari Kak Yoga.
     Blue, kamu lagi di mana? lez.
     Itulah panggilan kesayangan dari Kak Yoga padaku, coz sejak kecil aku sangat tergila-
gila sama warna biru. Aku membalasnya dengan segera.
Gue masih di skul, ni ma temen2. Ada apa? Tumben nech, Kakak ngebutuhin gue. Emangnya da apa?
     Elyn dan Ifda penasaran, mereka menanyakan siapa yang mengirim sms padaku.
     “Cle, sms dari siapa seeh?”
     “Biasa ni, dari Kak Yoga.”
     Hpku bergetar lagi, segera kubuka sms yang tertera di layar.
Sore ini Shera mw dateng ke rumah. Kamu sekitar jam 4an dah di rumah, lho!
     Aku merasa terganggu dengan sms dari kakakku, sikap acuhku mulai kumat lagi. Melihat tingkah anehku, Elyn dan Ifda segera mengajakku pulang.
     “Woi, lo kenapa? Ada setan lewat ya?” tanya Elyn penasaran.
     “Tahu ah, bete.”
     Begitulah yang selalu terjadi pada kami. Selalu memperbesar masalah yang sebenarnya sangat sepele.
     Bahkan pemicunya adalah sikap slenyekanku yang kadang-kadang membuat orang tidak tahan melihatnya.
     Tidak terlebih Elyn yang jalan pikirannya selalu bertolak belakang denganku. Secara, Elyn itu sosok cewek centil yang maniak sama warna pink.
     Sehingga kami selalu berselisih pendapat, terutama tentang gaya hidup kami setiap harinya. Hanya saja, kelembutan sikap Ifda selalu bisa menjadi penengah di antara perselisihanku dengan Elyn.

‚‚‚

     Seminggu kemudian, hari yang ditunggu-tunggu Elyn tiba. Karena terlalu asyik berkhayal semalaman, dia sampai-sampai bangun kesiangan.
     “Elyn, bangun sayang! Dah siang nich.” ucap Tante Vania.
     “Ah…Mama…Elyn masih ngantuk…” jawab Elyn malas.
     “Sayang, kamu kan harus sekolah. Ini bukan hari Minggu. Cepetan, kamu udah ditunggu Papa di bawah”
     “Ma, bilangin Papa kalo Elyn berangkatnya dianterin sopir.”
     “Elyn, bukannya hari ini kamu ada seleksi Cheers?
     “Eh iya…iya…Mama. Just a minute.” jawab Elyn singkat.
     Tak berapa lama Elyn segera menyusul Papa dan Mamanya di meja makan. Dengan semangat Elyn segera memberi ciuman hangat untuk kedua orangtuanya.
     “Waduh..waduh..putri kecil Papa kayaknya senang sekali?” tanya Papa Elyn.
     “Pasti dong, kan hari in spesial banget buat Elyn.” jawab Elyn menggebu-gebu.
     “Iya nich Pa, gadis kecil kita mau seleksi Cheerleaders di sekolahnya. Jadinya bertingkah aneh deh.”
     Tiba-tiba handphone Elyn berdering, aku tertarik buat menggoda dia pagi-pagi.
     “Hai bro, lo udah berangkat belom? Gerbang udah nyaris ditutup nech.” godaku.
     “Eh...bentar lagi gue berangkat. Cle, tahanin Pak Satpam ya? pinta Elyn.
     “Idih, ogah lah yeee. Dasar putri solo kesiangan. Dah dulu ya, gue mau masuk ne. Bye.....” ucapanku terpotong.
     “Tunggu...yah...Cleva gak cs dech. Sebel!” keluh Elyn.
     Bunda Vania semakin tidak tahan melihat kelakuan putri tunggalnya tersebut. Secara, udah ditunggu dari tadi tapi di malah terlalu asyik menerima telepon dariku yang sebenarnya mengganggu waktu singkatnya.
     “Udah, cepetan sarapannya. Nanti kamu terlambat sampai sekolah.”
     “I..iya..iya. Elyn berangkat dulu ya, Ma. Dah,” ucap Elyn tergesa-gesa.
     “Hati-hati, sayang.” jawab Tante Vania.

‚‚‚

download lengkap>>

Ketika Senja



Hari semakin senja. Matahari mulai condong jauh ke barat, bersiap menyinari belahan bumi yang lain. Sebentar lagi saatnya berbuka, waktu yang dinantikan umat Islam di bulan Ramadhan.
Dalam kegersangan alun-alun kota yang baru direnovasi, beberapa orang duduk santai di bawah pohon beringin yang berdiri kokoh di tengah alun-alun. Aku berada di antara mereka, membereskan peralatan sepakbola yang baru usai kugunakan sore ini.
Lelah, lapar, berkeringat dan rasa haus yang teramat sangat aku rasakan  sore ini. Itulah yang membuatku tak bisa berlama-lama mengobrol bersama teman yang lain ketika latihan berakhir. Aku ingin segera pulang dan membantu menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa. Dalam benakku sudah terngiang-ngiang berbagai makanan yang siap menyambutku di rumah.
Tak perlu waktu lama untuk segera meninggalkan tempat latihan. Setelah membereskan peralatan sepakbolaku, segera aku berpamitan kepada pelatih dan rekan satu timku.
Sepeda motor yang kukendarai berjalan lamban, karena jalanan kini mulai dipadati oleh kerumunan orang. Aku menoleh ke kanan kiri, memperhatikan pemandangan yang tersaji. Para pedagang kaki lima sudah mulai menjajakan dagangannya, orang-orang duduk berkelompok sambil mengobrol menunggu adzan berkumandang dan jalan di sekitar alun-alun pun sudah berubah menjadi lahan yang menjanjikan bagi para tukang parir.
Belum jauh dari alu-alun, aku melihat seseorang yang membuatku diam seribu bahasa. Membuat mataku tak henti-henti menatapnya dari belakang. Membuatku menerka-nerka.
Sekilas aku memandang wajahnya ketika motorku berada persis di sampingnya. Dalam kilasan wajahnya, kulihat ada derita, menyerah untuk bertahan di dunia. Seorang kakek, mungkin sudah berkepala delapan, memakai pakaian lusuh dan bertopi usang, memanggul tas bobrok serta memegang sebuah tongkat.
Berjalan dengan langkahnya yang gontai, menunduk ke bawah sambil terus memegangi tongkatnya yang berfungsi ganda, sebagai penuntun langkah dan sumber penghasilannya, karena di samping tongkat itu tertempel balon-balon yang ia jajakan. Ya, kakek itu adalah seorang pejual balon.
Lama kuamati dari kejauhan, kakek itu tidak seperti pedagang biasanya. Beliau hanya seperti orang yang sedang berjalan biasa, tak kudengar suara khas orang yang sedang menawarkan barang dagangannya kepada calon pembeli. Kakek itu terus saja berjalan dalam diam, balon-balonnya yang sudah semakin kecil itu setia menemaninya menuju jalanan yang tak berujung.
***
Walau Ibu menyediakan makanan yang cukup spesial, aku tidak terlalu bernafsu untuk melahapnya. Pikiranku terus tertuju pada sebuah potret lain kehidupan yang aku lihat sore tadi.
“Kapan kakek itu buka? Dengan apa? Apakah kakek itu punya uang?” Berbagai pertanyaan meluncur deras dalam pikiranku. Sesekali aku merutuki diri sendiri yang tidak mampu berbuat apa-apa.
Sebetulnya ini bukanlah perjumpaanku yang pertama dengan kakek itu. Jauh sebelumnya, aku telah beberapa kali melihatnya, tapi seperti biasa, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Dulu aku mempunyai dasar kuat untuk tidak terlalu memikirkannya. Pertama, karena dalam UUD 45 telah dijelaskan bahwa, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. Itu membuatku yakin bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat keadaan seperti itu. Kedua, menurutku kakek itu pasti mendapat dana BLT dari pemerintah dan dana itu pasti bisa memperbaiki kehidupannya.
Namun, makin hari kepercayaanku semakin luntur. Aku semakin tidak yakin bahwa orang seperti mereka diperhatikan pemerintah. Apalagi zaman sekarang. Zaman keadilan bisa diperjual belikan. Zaman para penegak hukum memeras dan bersikap sewenang-wenang. Zaman para terpidana bisa mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Bahkan, mungkin uang BLT yang seharusnya menjadi milik kaum papa, masuk ke kantong pribadi para pejabat. Maka kejadian sore tadi membuat aku semakin bisa merasakan, bahwa inilah kehidupan sesungguhnya, the real world.
***
Aku tentu saja harus bertindak! Sudah cukup waktu bagiku untuk menyia-nyiakannya. Sekuat tenanga aku mencari jalan keluar bagi masalah yang kuhadapi ini.
Sebuah ide akhirnya terlintas dalam benakku. Ide ini kudapat ketika sedang sholat tarawih. Benar kata orang, ide sering muncul ketika pikiran kita sedang kosong atau melayang jauh, karena sedari tadi aku benar-benar tidak bisa berkonsentrasi dalam beribadah.
Segera setelah sholat tarawih, kuutarakan permasalahan dan ide yang kudapat kepada seorang teman lewat telepon. Pada dasarnya ia setuju. Namun, kami memiliki cara penyelesaian yang berbeda. Melalui perdebatan yang cukup alot, akhirnya ia mau menerima ideku.
Kami pun sepakat akan berusaha mengumpulkan uang hingga mencapai minimal RP 50.00,00. Jumlah tersebut memang terlalu sedikit untuk dapat memenuhi kebutuhannya dalam jangka waktu yang lama. Namun, kami berharap agar sumbangan yang kami berikan dapat bermanfaat.
Rencananya, kami akan membeli sebuah balon dari kakek itu dan menyerahkan uang pecahan lima puluh ribuan, dan berharap agar kakek itu tak mempunyai uang kembalian sehingga seluruhnya untuk kakek. Kami memilih cara itu, agar kekek itu tidak tersinggung bila kami memberikan uang secara langsung.
Dalam perkembangannya, ternyata teman-teman kelasku sangat mendukung. Hampir seluruh siswa di kelasku bersedia menyisihkan sebagian uang jajan mereka. Bahkan, sampai ada yang bersedia untuk membawakan makanan untuk buka puasa kakek itu. Beberapa teman kelasku juga bersedia terjun langsung dalam proses serah terima, hal itu membuatku mengalah dan cuma melihatnya dari jauh.
Di tempat lain, teman yang malam lalu aku telepon juga sukses mengumpulkan banyak uang. Sebagian besar dari sumbangan teman-teman kosnya. Akhirnya, uang yang terkumpul melampaui terget hingga, Rp 100.000,00.
Malamnya, aku mendapat SMS dari teman yang membantuku. Ia mewakili teman-teman yang lain mengucapkan terima kasih, karena telah dibukakan pintu hatinya. Aku pun bersyukur, ternyata pertemuanku dengan seorang kakek penjual balon dapat mengetuk hatiku yang telah sekian lama beku oleh zaman yang semakin rusak.
***
Manusia merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Usaha kami menemui jalan buntu, seperti menabarak batu karang. Sangat menyakitkan.
Sudah tiga hari teman-temanku berkeliling alun-alun mencari kakek itu, tapi tak sekalipun mereka melihatnya. Makanan yang sedianya untuk kakek penjual balon, akhirnya kami serahkan pada orang lain. Hari pertama kepada nenek penjual jagung bakar, kedua kepada seorang pengemis, dan pada hari ketiga kami serahkan pada seorang anak yang sedang meminta-minta. Aku bahkan sampai harus ikut memastikan, mungkin teman-temanku tidak mengenal sosoknya. Namun, setelah beberapa kali mengitari, bahkan hingga jauh dari alun-alun, sosok kakek penjual balon tidak jua ketemu.
“Apakah kami terlambat?” jeritku dalam hati. Jika iya, pasti kami sangat menyesal. Mestinya kami bergerak lebih cepat.
Namun, perasaanku yang lain berujar, “Mungkin dia malaikat yang dikirim untuk menyadarkan kita, agar kita bisa lebih peduli pada sesama.”Ya, semoga perasaan inilah yang benar.
Setelah berunding akhirnya uang yang ada akan kami sumbangkan ke orang lain.
Kami berikan uang tersebut kepada seorang kakek berusia sekitar enam puluhan yang juga penjual balon, yang kami temui dalam perjalanan pulang. Kakek yang berjualan sambil menuntun sepeda reot dan karatan sebagai tempat menaruh daganngannya itu tak henti-hentinya mengucap syukur.
Dalam perjalanan pulang, kami bertekad ini bukanlah yang terkahir. Ini adalah awal dari usaha kami dalam membantu meringankan beban orang-orang yang terus berusaha walaupun banyak kesulitan yang menerpa. Mungkin inilah salah satu tujuan kita hidup.


Konvensi


Konvensi

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya!04/10/2005 Telah Disimak 553 kali


Sungguh aku bersyukur. Sebagai dukun yang semula paling-paling hanya nyapih dan nyuwuk anak kecil monthah, rewel dan nangis terus, atau mengobati orang disengat kalajengking, kini --sejak seorang sahabatku membawa pembesar dari Jakarta ke rumah-- martabatku meningkat. Aku kini dikenal sebagai "orang pintar" dan dipanggil Mbah atau Eyang. Aku tak lagi dukun lokal biasa. Pasienku yang semakin hari semakin banyak sekarang datang dari mana-mana. Bahkan beberapa pejabat tinggi dan artis sudah pernah datang. Tujuan para pasien yang minta tolong juga semakin beragam; mulai dari mencarikan jodoh, "memagari" sawah, mengatasi kerewelan istri, hingga menyelamatkan jabatan. Waktu pemilu kemarin banyak caleg yang datang dengan tujuan agar jadi.

Tuhan kalau mau memberi rezeki hamba-Nya memang banyak jalannya. Syukur kepada Tuhan, kini rumahku pun sudah pantas disebut rumah. Sepeda onthel-ku sudah kuberikan pembantuku, kini ke mana-mana aku naik mobil Kijang. Pergaulanku pun semakin luas.

Nah, di musim pemilihan kepala daerah atau pilkada saat ini, tentu saja aku ikut sibuk. Dari daerahku sendiri tidak kurang dari sepuluh orang calon yang datang ke rumah. Tidak itu saja. Para pendukung atau tim sukses mereka juga datang untuk memperkuat. Mereka umumnya minta restu dan dukungan. Sebetulnya bosan juga mendengarkan bicara mereka yang hampir sama satu dengan yang lain. Semuanya pura-pura prihatin dengan kondisi daerah dan rakyatnya, lalu memuji diri sendiri atau menjelekkan calon-calon lain. Padahal, rata-rata mereka, menurut penglihatanku, hanya bermodal kepingin. Beberapa di antara mereka bahkan bahasa Indonesianya saja masih baikan aku. Tapi ada juga timbal-baliknya. Saat pulang, mereka tidak lupa meninggalkan amplop yang isinya lumayan.
***
Pagi itu dia datang ke rumah sendirian. Tanpa ajudan. Padahal, kata orang-orang, ke mana-mana dia selalu dikawal ajudan atau stafnya. Pakaian safari --kata orang-orang, sejak pensiun dari dinas militer, dia tidak pernah memakai pakaian selain stelan safari-- yang dikenakannya tidak mampu menampil-besarkan tubuhnya yang kecil. Demikian pula kulitnya yang hitam kasar, tak dapat disembunyikan oleh warna bajunya yang cerah lembut. Bersemangat bila berbicara dan kelihatan malas bila mendengarkan orang lain. Mungkin karena aku justru termasuk orang yang agak malas bicara dan suka mendengar, maka dia tampak kerasan sekali duduk lesehan di karpetku yang butut.

Dia cerita bahwa sebentar lagi masa jabatannya sebagai bupati akan habis. Tapi dia didorong-dorong --dia tidak menyebutkan siapa-siapa yang mendorong-dorongnya-- untuk maju mencalonkan lagi dalam pilkada mendatang. Sebetulnya dia merasa berat, tapi dia tidak mau mengecewakan mereka yang mengharapkannya tetap memimpin kabupaten yang terbelakang ini.

"Nawaitu saya cuma ingin melanjutkan pembangunan daerah ini hingga menjadi kabupaten yang makmur dan berwibawa," katanya berapi-api. "Saya sedih melihat kawan-kawan di pedesaan, meski saya sudah berbuat banyak selama ini, masih banyak di antara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Perjuangan saya demi rakyat daerah ini khususnya, belum selesai."

"Saya sudah menyusun rencana secara bertahap yang saya perkirakan dalam masa lima tahun ke depan, akan paripurna pengentasan kemiskinan di daerah ini. Saya tahu, untuk itu hambatannya tidak sedikit." Dia menyedot Dji Sam Soe-nya dalam-dalam dan melanjutkan dengan suara yang sengaja dilirihkan. "Njenengan tahu, orang-orang yang selama ini ada di sekeliling saya, yang resminya merupakan pembantu-pembantu saya, justru malah hanya mengganggu. Sering menjegal saya. Mereka sering mengambil kebijaksanaan sendiri dengan mengatasnamakan saya. Lha akhirnya saya kan yang ketiban awu anget, terkena akibatnya. Sekarang ini beredar isu katanya bupati menyelewengkan dana ini-itu; bupati menyunati bantuan-bantuan untuk masyarakat; bupati membangun rumah seharga sekian miliar di kampung asalnya; dan isu-isu negatif lain. Ini semua sumbernya ya mereka itu."

"Namun itu semua tidak menyurutkan tekad saya untuk tetap maju demi rakyat daerah ini yang sangat saya cintai. Saya mohon restu dan dukungan Panjenengan. Saya berjanji dalam diri saya, kalau nanti saya terpilih lagi, akan saya sapu bersih sampah-sampah yang tak tahu diri itu dari lingkungan saya."

Dia menyebut beberapa nama yang selama ini memang aku kenal sebagai pembantu-pembantu dekatnya. Aku hanya mengangguk-angguk dan sesekali memperlihatkan ekspresi heran atau kagum. Sikap yang ternyata membuatnya semakin bersemangat.

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" tanyaku untuk pantas-pantas saat dia sedang menghirup tehnya.

Buru-buru dia letakkan gelas tehnya dan berkata, "Alhamdulillah, saya sudah melakukan pendekatan kepada Pak Kiai Sahil. Bahkan beliau mengikhlaskan putranya, Gus Maghrur, untuk mendampingi saya sebagai cawabup."

Kiai Sahil adalah seorang tokoh sangat berpengaruh di daerah kami. Partai terbesar di sini tak bakalan mengambil keputusan apa pun tanpa restu dan persetujuan kiai yang satu ini. Sungguh cerdik orang ini, pikirku.

"Kiai Sahil sudah memanggil pimpinan partai Anu dan dipertemukan dengan saya. Dan tanpa banyak perdebatan, disepakati saya sebagai calon tunggal bupati dan Gus Maghrur pendamping saya sebagai cawabup. Mudah-mudahan bermanfaat bagi masyarakat yang sudah lama mendambakan pemimpin yang kuat ini dan mampu mengantarkan mereka kepada kehidupan yang lebih layak."
***
Sesuai pembicaraan di telepon sebelumnya, malam itu sekda datang bersama istrinya. Sementara istrinya ngobrol dengan istriku, dia langsung menyampaikan maksud tujuannya.

"Langsung saja, Mbah; maksud kedatangan kami selain bersilaturahmi dan menengok kesehatan Simbah, kami ingin mohon restu. Terus terang kami kesulitan menolak kawan-kawan yang mendorong kami untuk mencalonkan sebagai bupati. Lagi pula memang selama periode kepemimpinan bupati yang sekarang, Panjenengan tahu sendiri, tak ada kemajuan yang berarti. Saya yang selama ini mendampinginya setiap saat merasa prihatin, namun tidak bisa berbuat apa-apa. Saya harus tutup mata dan telinga bila melihat dan mendengar tentang penyelewengan atasan saya itu."

"Jadi, selama ini, Sampeyan tidak pernah mengingatkan atau menegurnya bila melihat dia berbuat yang tidak semestinya?" tanyaku.

"Ya tidak sekali dua kali," sahutnya, "tapi tak pernah didengarkan. Mungkin dia pikir saya kan hanya bawahannya. Setiap kali saya ingatkan, dia selalu mengatakan bahwa dialah bupatinya dan saya hanya sekretaris; dia akan mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Lama-lama saya kan bosan. Ya akhirnya saya diamkan saja. Pikir saya, dosa-dosanya sendiri."

"Tapi akibatnya kan bisa juga mengenai orang banyak?!"
"Lha, itulah, Mbah, yang membuat saya prihatin dan terus mengganggu nurani saya. Tapi ke depan hal ini tidak boleh berulang. Saya dan kawan-kawan sudah bertekad akan menghentikannya. Bila nanti saya terpilih, saya tidak akan biarkan praktek-praktek tidak benar seperti kemarin-kemarin itu terjadi. Saya akan memulai tradisi baru dalam pemerintahan daerah ini. Tradisi yang mengedepankan kejujuran dan tranparansi. Pemerintahan yang bersih. Kasihan rakyat yang sekian lamanya tidak mendapatkan haknya, karena kerakusan pemimpinnya. Saya tahu persis data-data potensi daerah ini yang sebenarnya tidak kalah dari daerah-daerah lain. Seandainya dikelola dengan baik, saya yakin daerah ini akan menjadi maju dan tidak mustahil bahkan paling maju di wilayah propinsi."

"Jadi Sampeyan sudah siap betul ya?" Aku mengulang pertanyaanku kepada bosnya tempo hari.
"Ya, mayoritas pimpinan partai saya, Partai Polan, dan pengurus-pengurus anak cabangnya sudah setuju mencalonkan saya sebagai bupati dan Drs Rozak dari Partai Anu sebagai cawabupnya. Jadi nanti koalisi antara Partai Polan dan Partai Anu. Menurut hitungan di atas kertas suara kedua partai besar ini sudah lebih dari cukup."

"Lho, aku dengar Partai Anu sudah mencalonkan bos Sampeyan berpasangan dengan Gus Maghrur?" selaku.
"Ah, itu belum resmi, Mbah. Beberapa tokoh dari Partai Anu yang ketemu saya, justru menyatakan tidak setuju dengan pasangan itu. Pertama, karena mereka sudah mengenal betul bagaimana pribadi bos saya dan meragukan kemampuan Gus Maghfur. Itu kan akal-akalannya bos saya saja. Gus Maghfur hanya dimanfaatkan untuk meraup suara mereka yang fanatik kepada Kiai Sahil."
***
Konferensi Cabang Partai Anu yang digelar dalam suasana demam pilkada, meski sempat memanas, namun berakhir dengan mulus. Drs Rozak terpilih sebagai ketua baru dengan perolehan suara cukup meyakinkan, mengalahkan saingannya, Gus Maghrur.

Drs Rozak bergerak cepat. Setelah kelengkapan pengurus tersusun, langsung mengundang rapat pengurus lengkap. Di samping acara perkenalan, rapat pertama itu juga memutuskan: DPC akan mengadakan konvensi untuk penjaringan calon-calon bupati dan wakil bupati. Drs Rozak menyatakan dalam konferensi pers bahwa selama ini partainya belum secara resmi menetapkan calon dan inilah saatnya secara resmi partai pemenang pemilu kemarin ini membuka pendaftaran calon dari mana pun. Bisa dari tokoh independen, bisa dari partai lain. Ditambahkan oleh ketua baru ini, bahwa dia sudah berkonsultasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Partai dan diizinkan melakukan konvensi tidak dengan sistem paket. Artinya, masing-masing mendaftar sebagai calon bupati atau wakil bupati dan baru nantinya ditetapkan siapa berpasangan dengan siapa.

Tak lama setelah diumumkan, banyak tokoh yang mendaftar, baik sebagai calon bupati maupun calon wakil bupati. Termasuk di antara mereka yang mendaftar sebagai cabup: bupati lama dan sekdanya. Menurut keterangan panitia konvensi, agar sesuai dengan prinsip demokrasi, calon-calon akan digodok, dipilih, dan ditetapkan melalui pertemuan antara pengurus cabang lengkap, pengurus-pengurus anak cabang, dan organisasi-organisasi underbow partai; dengan ketentuan partai hanya akan mencalonkan satu cabup dan satu cawabup.

Semua orang menunggu-nunggu hasil konvensi partai terbesar di kabupaten itu. Maklum Partai Anu merupakan partai yang diyakini menentukan. Apalagi sebelumnya sudah ramai dan simpang siur berita mengenai calon-calon dari partai ini. Orang-orang tak ingin terus menduga-duga apakah benar partai yang katanya menyesal dulu mendukung bupati yang sekarang akan mencalonkannya lagi berpasangan dengan Gus Maghrur, putra Kiai Sahil sesepuh partai. Dan apakah sekda yang konon dicalonkan oleh Partai Polan benar akan berpasangan dengan Drs Rozak yang kini menjadi ketua Partai Anu.

Singkat cerita, konvensi berjalan dengan mulus. Sesuai kesepakatan, calon bupati dipilih sendiri dan calon wakil bupati dipilih sendiri pula. Kemudian yang terpilih sebagai cabup dipasangkan dengan yang terpilih sebagai cawabup. Hasilnya sungguh mengejutkan banyak orang, terutama bupati lama dan sekdanya. Ternyata yang terpilih dan disepakati menjadi calon-calon partai ialah Drs Rozak sebagai cabup dan Ir Sarjono, ketua Partai Polan sebagai cawabupnya.
***
"Itulah politik," kataku kepada istriku yang tampak bingung setelah mendengar ceritaku. "Untung aku tidak tergiur ketika ada yang menawariku --dan kamu ikut mendorong-dorongku-- untuk ikutan maju sebagai cawabup!" ***



Sang Primadona



Sang Primadona

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!
Dimuat di Jawa Pos Silakan Kunjungi Situsnya!11/27/2005 Telah Disimak 644 kali


Apa yang harus aku lakukan? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing.
Apabila masalahku ini berlarut-larut dan aku tidak segera menemukan pemecahannya, aku khawatir akan berdampak buruk terhadap kondisi kesehatan dan kegiatanku dalam masyarakat. Lebih-lebih terhadap dua permataku yang manis-manis: Gita dan Ragil.

Tapi agar jelas, biarlah aku ceritakan lebih dahulu dari awal.
Aku lahir dan tumbuh dalam keluarga yang -katakanlah-- kecukupan. Aku dianugerahi Tuhan wajah yang cukup cantik dan perawakan yang menawan. Sejak kecil aku sudah menjadi "primadona" keluarga. Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.

Di sekolah, mulai SD sampai dengan SMA, aku pun --alhamdulillah-juga disayangi guru-guru dan kawan-kawanku. Apalagi aku sering mewakili sekolah dalam perlombaan-perlombaan dan tidak jarang aku menjadi juara.

Ketika di SD aku pernah menjadi juara I lomba menari. Waktu SMP aku mendapat piala dalam lomba menyanyi. Bahkan ketika SMA aku pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat provinsi.

Tapi sungguh, aku tidak pernah bermimpi akhirnya aku menjadi artis di ibu kota seperti sekarang ini. Cita-citaku dari kecil aku ingin menjadi pengacara yang di setiap persidangan menjadi bintang, seperti sering aku lihat dalam film. Ini gara-gara ketika aku baru beberapa semester kuliah, aku memenangkan lomba foto model. Lalu ditawari main sinetron dan akhirnya keasyikan main film. Kuliahku pun tidak berlanjut.

Seperti umumnya artis-artis popular di negeri ini, aku pun kemudian menjadi incaran perusahaan-perusahaan untuk pembuatan iklan; diminta menjadi presenter dalam acara-acara seremonial; menjadi host di tv-tv; malah tidak jarang diundang untuk presentasi dalam seminar-seminar bersama tokoh-tokoh cendekiawan. Yang terakhir ini, boleh jadi aku hanya dijadikan alat menarik peminat. Tapi apa rugiku? Asal aku diberi honor standar, aku tak peduli.

Soal kuliahku yang tidak berlanjut, aku menghibur diriku dengan mengatakan kepada diriku, "Ah, belajar kan tidak harus di bangku kuliah. Lagi pula orang kuliah ujung-ujungnya kan untuk mencari materi. Aku tidak menjadi pengacara dan bintang pengadilan, tak mengapa; bukankah kini aku sudah menjadi superbintang. Materi cukup."

Memang sebagai perempuan yang belum bersuami, aku cukup bangga dengan kehidupanku yang boleh dikata serba kecukupan. Aku sudah mampu membeli rumah sendiri yang cukup indah di kawasan elite. Ke mana-mana ada mobil yang siap mengantarku. Pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung. Sementara banyak kawan-kawanku yang sudah lulus kuliah, masih lontang-lantung mencari pekerjaan.

Kadang-kadang untuk sekadar menyenangkan orang tua, aku mengundang mereka dari kampung. Ibuku yang biasanya nyinyir mengomentari apa saja yang kulakukan dan menasehatiku ini-itu, kini tampak seperti sudah menganggapku benar-benar orang dewasa. Entah kenyataannya demikian atau hanya karena segan kepada anaknya yang kini sudah benar-benar hidup mandiri. Yang masih selalu ibu ingatkan, baik secara langsung atau melalui surat, ialah soal ibadah.

"Nduk, ibadah itu penting. Bagaimana pun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!"

"Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampung dulu, agar tidak hilang."

"Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim."

Ya, kalimat-kalimat semacam itulah yang masih sering beliau wiridkan. Mula-mula memang aku perhatikan; bahkan aku berusaha melaksanakan nasihat-nasihat itu, tapi dengan semakin meningkatnya volume kegiatanku, lama-lama aku justru risi dan menganggapnya angin lalu saja.

Sebagai artis tenar, tentu saja banyak orang yang mengidolakanku. Tapi ada seorang yang mengagumiku justru sebelum aku menjadi setenar sekarang ini. Tidak. Ia tidak sekadar mengidolakanku. Dia menyintaiku habis-habisan. Ini ia tunjukkan tidak hanya dengan hampir selalu hadir dalam even-even di mana aku tampil; ia juga setia menungguiku shoting film dan mengantarku pulang. Tidak itu saja. Hampir setiap hari, bila berjauhan, dia selalu telepon atau mengirim SMS yang seringkali hanya untuk menyatakan kangen.

Di antara mereka yang mengagumiku, lelaki yang satu ini memang memiliki kelebihan. Dia seorang pengusaha yang sukses. Masih muda, tampan, sopan, dan penuh perhatian. Pendek kata, akhirnya aku takluk di hadapan kegigihannya dan kesabarannya. Aku berhasil dipersuntingnya. Tidak perlu aku ceritakan betapa meriah pesta perkawinan kami ketika itu. Pers memberitakannya setiap hari hampir dua minggu penuh. Tentu saja yang paling bahagia adalah kedua orang tuaku yang memang sejak lama menghendaki aku segera mengakhiri masa lajangku yang menurut mereka mengkhawatirkan.

Begitulah, di awal-awal perkawinan, semua berjalan baik-baik saja. Setelah berbulan madu yang singkat, aku kembali menekuni kegiatanku seperti biasa. Suamiku pun tidak keberatan. Sampai akhirnya terjadi sesuatu yang benar-benar mengubah jalan hidupku.

Beberapa bulan setelah Ragil, anak keduaku, lahir, perusahaan suamiku bangkrut gara-gara krisis moneter. Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.

Untung, meskipun agak surut, aku masih terus mendapatkan kontrak pekerjaan. Sehingga, dengan sedikit menghemat, kebutuhan hidup sehari-hari tidak terlalu terganggu. Yang terganggu justru keharmonisan hubungan keluarga akibat perubahan perilaku suami. Sepertinya apa saja bisa menjadi masalah. Sepertinya apa saja yang aku lakukan, salah di mata suamiku. Sebaliknya menurutku justru dialah yang tak pernah melakukan hal-hal yang benar. Pertengkaran hampir terjadi setiap hari.

Mula-mula, aku mengalah. Aku tidak ingin anak-anak menyaksikan orang tua mereka bertengkar. Tapi lama-kelamaan aku tidak tahan. Dan anak-anak pun akhirnya sering mendengar teriakan-teriakan kasar dari mulut-mulut kedua orang tua mereka; sesuatu yang selama ini kami anggap tabu di rumah. Masya Allah. Aku tak bisa menahan tangisku setiap terbayang tatapan tak mengerti dari kedua anakku ketika menonton pertengkaran kedua orang tua mereka.

Sebenarnya sudah sering beberapa kawan sesama artis mengajakku mengikuti kegiatan yang mereka sebut sebagai pengajian atau siraman rohani. Mereka melaksanakan kegiatan itu secara rutin dan bertempat di rumah mereka secara bergilir. Tapi aku baru mulai tertarik bergabung dalam kegiatan ini setelah kemelut melanda rumah tanggaku. Apakah ini sekadar pelarian ataukah --mudah-mudahan-- memang merupakan hidayah Allah. Yang jelas aku merasa mendapatkan semacam kedamaian saat berada di tengah-tengah majelis pengajian. Ada sesuatu yang menyentuh kalbuku yang terdalam, baik ketika sang ustadz berbicara tentang kefanaan hidup di dunia ini dan kehidupan yang kekal kelak di akhirat, tentang kematian dan amal sebagai bekal, maupun ketika mengajak jamaah berdzikir.

Setelah itu, aku jadi sering merenung. Memikirkan tentang diriku sendiri dan kehidupanku. Aku tidak lagi melayani ajakan bertengkar suami. Atau tepatnya aku tidak mempunyai waktu untuk itu. Aku menjadi semakin rajin mengikuti pengajian; bukan hanya yang diselenggarakan kawan-kawan artis, tapi juga pengajian-pengajian lain termasuk yang diadakan di RT-ku. Tidak itu saja, aku juga getol membaca buku-buku keagamaan.

Waktuku pun tersita oleh kegiatan-kegiatan di luar rumah. Selain pekerjaanku sebagai artis, aku menikmati kegiatan-kegiatan pengajian. Apalagi setelah salah seorang ustadz mempercayaiku untuk menjadi "asisten"-nya. Bila dia berhalangan, aku dimintanya untuk mengisi pengajian. Inilah yang memicu semangatku untuk lebih getol membaca buku-buku keagamaan. O ya, aku belum menceritakan bahwa aku yang selama ini selalu mengikuti mode dan umumnya yang mengarah kepada penonjolan daya tarik tubuhku, sudah aku hentikan sejak kepulanganku dari umrah bersama kawan-kawan. Sejak itu aku senantiasa memakai busana muslimah yang menutup aurat. Malah jilbabku kemudian menjadi tren yang diikuti oleh kalangan muslimat.

Ringkas cerita; dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan. Karena banyaknya ibu-ibu yang sering menanyakan kepadaku mengenai berbagai masalah keluarga, aku dan kawan-kawan pun mendirikan semacam biro konsultasi yang kami namakan "Biro Konsultasi Keluarga Sakinah Primadona". Aku pun harus memenuhi undangan-undangan --bukan sekadar menjadi "penarik minat" seperti dulu-- sebagai nara sumber dalam diskusi-diskusi tentang masalah-masalah keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan bahkan politik. Belum lagi banyaknya undangan dari panitia yang sengaja menyelenggarakan forum sekadar untuk memintaku berbicara tentang bagaimana perjalanan hidupku hingga dari artis bisa menjadi seperti sekarang ini.

Dengan statusku yang seperti itu dengan volume kegiatan kemasyarakatan yang sedemikian tinggi, kondisi kehidupan rumah tanggaku sendiri seperti yang sudah aku ceritakan, tentu semakin terabaikan. Aku sudah semakin jarang di rumah. Kalau pun di rumah, perhatianku semakin minim terhadap anak-anak; apalagi terhadap suami yang semakin menyebalkan saja kelakuannya. Dan terus terang, gara-gara suami, sebenarnyalah aku tidak kerasan lagi berada di rumahku sendiri.

Lalu terjadi sesuatu yang membuatku terpukul. Suatu hari, tanpa sengaja, aku menemukan sesuatu yang mencurigakan. Di kamar suamiku, aku menemukan lintingan rokok ganja. Semula aku diam saja, tapi hari-hari berikutnya kutemukan lagi dan lagi. Akhirnya aku pun menanyakan hal itu kepadanya. Mula-mula dia seperti kaget, tapi kemudian mengakuinya dan berjanji akan menghentikannya.

Namun beberapa lama kemudian aku terkejut setengah mati. Ketika aku baru naik mobil akan pergi untuk suatu urusan, sopirku memperlihatkan bungkusan dan berkata: "Ini milik siapa, Bu?"

"Apa itu?" tanyaku tak mengerti.
"Ini barang berbahaya, Bu," sahutnya khawatir, "Ini ganja. Bisa gawat bila ketahuan!"
"Masya Allah!" Aku mengelus dadaku. Sampai sopir kami tahu ada barang semacam ini. Ini sudah keterlaluan.

Setelah aku musnahkan barang itu, aku segera menemui suamiku dan berbicara sambil menangis. Lagi-lagi dia mengaku dan berjanji kapok, tak akan lagi menyentuh barang haram itu. Tapi seperti sudah aku duga, setelah itu aku masih selalu menemukan barang itu di kamarnya. Aku sempat berpikir, jangan-jangan kelakuannya yang kasar itu akibat kecanduannya mengonsumsi barang berbahaya itu. Lebih jauh aku mengkhawatirkan pengaruhnya terhadap anak-anak.

Terus terang aku sudah tidak tahan lagi. Memang terpikir keras olehku untuk meminta cerai saja, demi kemaslahatanku dan terutama kemaslahatan anak-anakku. Namun seiring maraknya tren kawin-cerai di kalangan artis, banyak pihak terutama fans-fansku yang menyatakan kagum dan memuji-muji keharmonisan kehidupan rumah tanggaku. Bagaimana mereka ini bila tiba-tiba mendengar --dan pasti akan mendengar-- idolanya yang konsultan keluarga sakinah ini bercerai? Yang lebih penting lagi adalah akibatnya pada masa depan anak-anakku. Aku sudah sering mendengar tentang nasib buruk yang menimpa anak-anak orang tua yang bercerai. Aku bingung.

Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus mengorbankan rumah tanggaku demi kegiatan kemasyarakatanku, ataukah sebaiknya aku menghentikan kegiatan kemasyarakatan demi keutuhan rumah tanggaku? Atau bagaimana? Berilah aku saran! Aku benar-benar pusing!***





Nasihat Kiai Luqni


Nasihat Kiai Luqni

Cerpen A Mustofa Bisri Silakan Simak!


 Berbeda dengan acara pengajian yang lain, pengajian dalam rangka haul, pengunjungnya jauh lebih banyak. Haul --berbeda dengan mauludan yang merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad-- adalah peringatan hari wafat. Biasanya yang di-haul-i adalah kiai besar. Tapi sekarang setiap rang bisa dihauli, tergantung keluarganya.
Apabila keluarga seseorang yang sudah meninggal menghendaki dan mempunyai cukup biaya untuk mengadakan peringatan haul, sekarang ini bisa-bisa saja mengadakannya. Bedanya dengan haul kiai besar, haul keluarga ini segala sesuatunya hanya ditanggung dan ditangani oleh keluarga yang bersangkutan itu sendiri. Sementara haul kiai besar lazimnya diselenggarakan oleh masyarakat. Panitianya juga dibentuk oleh dan dari masyarakat. Keluarga kiai yang dihauli biasanya hanya didudukkan sebagai penasihat panitia.
Tradisi haul dengan pengajian besar-besaran semula dimaksudkan ?sebagaimana mauludan-- untuk mengenang jasa dan menuturkan sejarah kiai yang dihauli dengan tujuan agar diteladani oleh masyarakat.
Malam itu saya diundang pengajian haul kiai besar di daerah P. Saya datang tidak hanya karena saya mengenal Kiai Akrom yang dihauli sebagai tokoh yang dicintai masyarakat pada masa hidupnya, tapi juga ingin mendengarkan ceramah Kiai Luqni, seorang mubalig kondang yang berbeda dengan kebanyakan mubalig lain.
Kiai Luqni suaranya empuk, bicaranya sejuk. Tidak berkobar-kobar. Bila membaca ayat-ayat Quran selalu dilagukan dengan merdu. Ceramahnya mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun yang awam. Kadang-kadang bicaranya diselingi dengan humor-humor segar yang tidak vulgar. Lebih dari itu; Kiai Luqni dalam ceramahnya, tidak pernah mengecam, menuding, atau apalagi mencaci orang. Tidak pernah menggurui, apalagi bersikap seolah-olah penguasa agama yang paling tahu kehendak Tuhan.
Di majelis haul, ribuan hadirin mengelu-elukan kedatangan da?I kecintaan mereka, Kiai Luqni. Mereka yang dekat dari tempat Kiai Luqni berjalan menuju ke rumah keluarga Kiai Akrom yang dihauli, berhamburan menyambut dan menciumi tangannya. Sementara yang jauh pada melambaikan tangan. Dengan tersenyum, Kiai Luqni membalas sambutan itu dengan wajah berseri-seri tanpa kesan bangga.
***
??Acara berikutnya ialah acara inti,?? terdengar suara pembawa acara di pengeras suara, ??acara yang kita nanti-nantikan: mau?izhah hasanah dan tausiah dari almukarram Bapak Kiai Haji Luqni. Waktu dan tempat kami persilakan secukupnya!??
Kiai Luqni pun dengan tenang dan anggun naik ke panggung diiringi selawat hadirin dan hadirat. Kiai Luqni sendiri ikut membaca salawat sebelum kemudian duduk di kursi yang sudah disiapkan. Lalu menyampaikan salam. Sekalian hadirin seketika menyambut salam dengan gegap gempita; kemudian diam dan dengan tenang menyimak.
Dengan gamblang, Kiai Luqni menerangkan hikmahnya diadakan peringatan haul.
??Para hadirin, haul itu kebalikan dari peringatan maulid. Kalau peringatan maulid adalah peringatan kelahiran. Maulid Nabi adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan haul merupakan peringatan kematian; biasanya memperingati wafatnya kiai yang meneruskan perjuangan Kanjeng Nabi seperti haul Kiai Akrom sekarang ini.??
??Ini adalah haul Kiai Akrom yang ke-13. Berarti sudah 13 tahun Kiai Akrom wafat. Sudah 13 tahun kita ditinggalkannya. Tapi, lihatlah, selama itu kita yang sekian banyak ini masih terus mengenang dan mendoakan beliau. Mengapa? Karena kita semua merasa telah menerima jasa dan? kebaikan beliau. Beliau telah mengajarkan dan memberi teladan kepada kita hidup yang baik. Menunjukkan kepada kita mana yang baik dan mana yang buruk. Yang mestinya menjadi pertanyaan kita saat ini: apakah apabila kita meninggal akan dihauli dan dikenang orang banyak seperti Kiai Akrom ini; ataukah akan segera dilupakan oleh orang???
??Haul juga mengingatkan kepada kita akan kematian. Bahwa kita semua, tak pandang bulu, bila sudah sampai saatnya pasti dipanggil ke hadirat-Nya. Kita tak tahu kapan ajal kita tiba, tapi kita tahu bahwa itu pasti tiba.??
??Ada dawuh yang mengatakan, Kafaa bilmauti waa?izhan. Cukuplah kematian sebagai pemberi nasihat. Orang yang tidak mempan dinasihati oleh kematian, jangan harapkan mempan dinasihati oleh lainnya.??
??Orang yang selalu ingat bahwa dia akan mati, akan bersikap hati-hati. Sebaliknya mereka yang sembrono, yang sombong, yang jahat kepada sesama, biasanya adalah orang-orang yang lupa bahwa mereka akan mati???
??Tak ada seorang pun yang tahu kapan dan di mana akan mati. Seandainya kita tahu kapan dan di mana kita akan mati, maka kita bisa mempersiapkan diri. Tapi kita tidak tahu. Jadi, mestinya setiap saat kita harus bersiap-siap.??
Kiai Luqni kemudian menguraikan pentingnya mempersiapkan diri menyongsong kematian. ??Mempersiapkan diri menyongsong kematian yang pasti itu, bisa kita lakukan dengan membiasakan perilaku yang baik. Sehingga kapan saja kita dipanggil Tuhan, kita dalam keadaan berperilaku baik. Jangan sampai kita membiasakan perilaku buruk, sehingga dikhawatirkan mati dalam keadaan buruk pula.?? ?
Kiai Luqni pun memberikan contoh-contoh beberapa tokoh yang dikenal dan diketahui hadirin. ??Anda sekalian kenal, bukan, dengan Mbah Asnawi dari K? Kiai yang suka sembahyang itu? Beliau meninggal saat sujud. Alangkah beruntungnya dipanggil Tuhan dalam keadaan sedang bersujud kepada-Nya. Kiai Zaini dari D yang pekerjaannya mengajar para santri, wafat saat sedang mengajar para santrinya.??
??Sebaliknya, di antara kalian pasti ada yang pernah membaca berita tentang seorang tokoh yang meninggal di sebuah kamar hotel dan ?maaf--berada di atas seorang wanita nakal. Masya Allah!??
??Memang, biasanya orang meninggal sesuai kesukaan atau kebiasaan hidupnya. Di tempat saya, ada orang yang suka judi dan mati pada saat berjudi. Ada yang suka minum, mati pada saat minum. Na?udzu billah. Anda sekalian mungkin sudah mendengar berita tentang seorang dosen yang meninggal saat memberi kuliah. Atau tentang penyair yang meninggal pada saat membaca puisi...??
Kiai Luqni berhenti sebentar, memperbaiki duduknya. Menarik nafas panjang, kemudian, dengan suara melirih, mendesiskan Astaghfirullah??? Dan tak ada lagi kata-kata yang terdengar dari mubalig kondang ini.
Hadirin hanya melihat sosok Kiai Luqni yang duduk lunglai di tempat duduknya di atas panggung. Kepalanya tunduk hingga dagunya menyentuh dada. Suasana menjadi hening. Sampai beberapa orang panitia naik panggung setelah beberapa lama Kiai Luqni tak bersuara dan tak bergerak. Orang-orang pun kemudian melihat mubalig kesayangan mereka itu digotong turun.
Suasana pun berubah gempar. Kiai Luqni wafat. Sesuai ceramahnya, Kiai Luqni wafat pada saat sedang memberi nasihat. Kewafatannya meneguhkan nasihatnya.? ?
Cukuplah kematian sebagai nasihat. ***